Sabtu, 30 November 2019
Status medsosmu atau kiprahmu?
Selasa, 15 Januari 2019
Ga perlu dibanggakan
Pekan kemarin saya ke Bandung. Mau jemput Sarah. Di perjalanan yang biasanya bablas langsung Cibitung Karawang tanpa tol dan baru masuk tol setelah Karawang timur, entah kenapa suami malah tanya. Kira-kira gimana kalau lewat tol dari Cibitung ke Cikarang Utama seperti biasanya dahulu. Lalu saya disuruh lihat gugel maps supaya tahu ada tanda merah macet atau tidak.
Saat lihat gps itu sudah terlihat sekali merah yang sangat panjang, panjaaaanggg. Waktu mau bilang kalau lewat Cikarang Utama itu merahnya panjaaaaannggg, ternyata lampu lalu lintas keburu nyala hijau sementara posisi mobil ada di sebelah kanan dan langsung belok ke arah tol Cibitung. Terlanjur sudah. Akhirnya bertemu juga dengan kemacetan jalan tol. Rutin. Harian. Padahal jika ambil jalan biasa dan masuk tolnya nanti di Karawang, maka perjalanan bisa membuat hati lega, ga ngresulo. Ga keno macett.
Sabar saat macet rasa-rasanya memang bukan hanya solusi tunggal. Sabar sih sabar. Tapi kalau setiap lewat daerah itu kemudian harus tertahan sampai 3 jam, padahal hanya Cibitung ke Cikarang Utama, belum kalau bablas sampai Karawang. Bisa dibayangkan orang-orang yang setiap harinya lewat ke situ mau kerja. Alangkah capeknya. Capek hate euyyy.
Saya pun akhirnya tertahan, hampir 3 jam. Mantappp. Padahal Bekasi ke Bandung itu ga lama, seharusnya.
Suami resah. Saya merasa bersalah karena tidak gerak cepat saat melihat gps dengan tanda merah yang panjang. Akhirnya cuma diam. Menerima dengan pasrah. Kesel juga percuma. Nasi sudah menjadi bubur. Tapi tetep ga enak kalau ga pake ayam suwiran sama cakwe plus krupuk dan sambelnya. Terima nasib.
Lantas saya jadi mikir.
Itu orang-orang yang bangga dengan pembangunan jalan tol, apakah mereka juga merasakan tiap hari lewat situ yang macetnya bisa bikin emak-emak masih sempat dandan mek ap an?
Ah, andai saja mereka memang tiap hari tahu dan memang lewat situ kemudian jadi penyabar, Alhamdulillah. Selamat. Anda orang kuat.
Pembangunan jalan tol yang masih belum selesai dan akhirnya ada penyempitan jalan, ditambah antrian masuk gerbang tol, menyebabkan kemacetan itu sangat menyiksa saya, ini bagi saya. Padahal lewat situ pun hanya sesekali saja. Saya pikir, bagaimana orang-orang yang pagi sore lewat situ?
Belum lagi tarif tol yang diam-diam naek. Kondisi jalan pun ga semulus prosotan, ada lobang sana sini, tambalan sana sini. Bayangkan, sodara!
Kalau dipikir, ruginya banyak. Waktu, tenaga, materi, plus ngresulo. Sakiitt. Pegel euyy.
Saya jadi ngalamun...
Jalan tol itu tadinya tanah rakyat, dipaksa dijual, buat jalan umum, tapi kudu bayar. Kemana eta duit pajak jalan. Ah, saya jadi keingetan baca berita soal Sultan Jogja yang menolak jalan tol karena sesungguhnya hanya akan membebani rakyat. Wong itu jalan punya rakyat, terus dibangun kok trus suruh mbayar, capek.
Nah, coba deh itu yang bangga dengan jalan tol sampai beritanya ga habis 7 hari 7 malam, bahkan tahunan. Emangnya bisa bangga kalau tiap hari ngalami macet di jalan tol, jalannya ga mulus-mulus amat, suruh bayar mahal, bisa sabar tiap saat begitu?
Saya sih ga yakin kalau yang ngebanggain jalan tol itu memang tiap hari lewat jalan tol. Karena bagi yang mengalami mah, boro-boro kudu bangga kalau sudah kena macet harian, yang ada juga dia pasrah, diam saja, terima nasib. Kalau pas lengang, Alhamdulillah. Pas macet, ya pasrah.
Jadi, ga perlulah itu orang-orang bangga dengan jalan tol. Biasa saja. Toh kita yang lewat juga bayar kok. Yang mau dibanggain apanya? Cepatnya? Memang harus cepat kok, namanya juga jalan tanpa hambatan. Aslinya gitu. Kalau lancar! Kalau macet atau ada kecelakaan ? Lain lagi ceritanya.
Jadi, ga usah pada bangga, ya... Biasa ajah!!
Sabtu, 14 Juli 2018
Berhati hati dengan berita
Di akun ig, ada berita lewat. Seorang lelaki membonceng pacarnya alami kecelakaan lalu lintas karena nyalip truk dengan kecepatan tinggi dan tidak bisa menahan lajunya sampai akhirnya terjatuh. Sementara dari arah berlawanan, melaju kencang kendaraan dan menggilas si wanita yang diboncengnya. Si wanita akhirnya tewas di tempat.
Kolom komentar ramai orang mengecam karena tertulis bahwa lelaki itu membonceng pacarnya. Entah berapa banyak komen miring soal kecelakaan itu. Dari yang mengatakan pacaran dosa dan kecaman lainnya. Sampai akhirnya nyelip satu komentar yang menjelaskan bahwa ternyata wanita yang diboncengnya adalah sepupunya, bukan pacarnya seperti yang tertulis di beritanya.
Berita baru muncul. Soal Harun Yahya yang ditangkap dengan banyak kasus yang menimpanya. Dia dituduh sudah melakukan beberapa kejahatan dan tuduhan lainnya yang semuanya negatif. Semua orang tercengang. Tidak ada yang menyangka. Seorang Harun Yahya dengan tingkat kecerdasannya yang tinggi, Alloh karuniakan kepadanya banyak ilmu yang dengannya Harun Yahya banyak merilis video berisi keilmuan yang begitu penting. Video yang mendunia di antaranya adalah sejarah penciptaan manusia dan lain-lain yang sesungguhnya membuat orang-orang kafir gerah dengan penemuan ilmiyahnya.
Lalu ramai-ramai orang pun mengecamnya. Menuduhnya telah futur dan menganggapnya sudah jauh melenceng. Bergaul bebas dengan banyak wanita hingga membuat jijik yang melihatnya.
Tapi ada satu komentar yang terbaca. Menerangkan kondisi sesungguhnya yang dialami Harun Yahya setelah beberapa videonya membuat orang kafir naik pitam. Hingga akhirnya di penjara dan ketika di dalam itulah dia dicekoki narkoba dan obat terlarang sampai mengalami gangguan jiwa dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa kemudian jadilah dia pribadi yang terlihat sekarang. Si penulis komen menuliskan bahwa ada sebab ada akibat hingga Harun Yahya mengalami hal yang sungguh mengerikan.
Satu lagi video yang viral soal penganiayaan yang dilakukan oleh seorang polisi kepada dua wanita dengan berita tertulis bahwa si wanita itu tanpa sengaja menyenggol hape anak si polisi sampai hapenya pecah.
Kemudian nyelip juga satu komentar yang menerangkan kejadian sesungguhnya bahwa sebenarnya si wanita itu dituduh mencuri sampai akhirnya si polisi marah dan menendangnya.
Tiga kasus dengan berita awal yang tertulis ternyata tidak sepenuhnya benar sampai akhirnya ada beberapa komentator yang meluruskannya.
Ini pelajaran buat kita saat ada sesuatu yang lewat di beranda agar dicek dulu kebenarannya. Supaya kita tidak terlanjur mencaci maki dan menyalahkan.
Eka Rosaria
Dzikir
Catatan pagi..
Sudahkah kita bersyukur saat mata kita bisa terbuka dan terbangun dari tidur dan ternyata masih hidup? Sudahkah membaca doa bangun tidur? Lalu membaca Alhamdulillaahilladzii bi ni'matihii tatimmushshoolihaat ? Jika belum, segera baca... Karena ternyata dengan itu, Alloh memberikan kita kesempatan bertaubat atas dosa-dosa kita serta kesempatan beramal sholeh masih ada.
Dan berpagilah dengan doa dan dzikir yang sudah Rosululloh shollalloohu 'alaihi wa sallam ajarkan. Serta raihlah keberkahan dari doa beliau saat pagi datang.
أَللّٰهُمَّ بُارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكَوْرّهَا
"semoga Alloh berkahi ummatku di pagi hari harinya"
Maka, sudah seharusnya pagi ini kita awali dengan doa dan dzikir serta amal sholeh agar keberkahan kita raih dan mendapatkan doa dari Rosululloh shollalloohu 'alaihi Wa Sallam.
Jangan lupa rutinkan sholat fajar, karena sholat fajar itu lebih baik dari dunia dn seisinya. Hati akan terasa selalu cukup dan lapang dengan rezeqi yang Alloh berikan.
Jangan lupa baca quran setelah sholat, karena ada banyak pahala di sana. Bacaan Qur'an juga adalah hal yang akan menerangi pembacanya nanti di alam kubur.
Lanjutkan dengan dzikir pagi. Lalu ayat kursi dan tiga Qul. Semoga Alloh menjaga kita dari segala marabahaya.
Ibu atau bapak yang biasa mandikan anak, jangan lupa ketika membuka baju si anak, membaca Bismillah dahulu, agar terjaga dari penyakit 'ain karena membuka aurot. Ajarkan anak-anak membaca dzikir masuk dan keluar kamar mandi, serta membaca Bismillah saat membuka dan memakai baju.
Buat para emak yang mau masak, awali semuanya dengan Bismillah, sambil masak sambil dzikir, sambil baca sholawat, supaya lisan kita biasa dengan dzikir. Apa saja kegiatan kita, seyogyanya diawali dengan Bismillah dan syukuri setelahnya dengan membaca Alhamdulillaah. Semoga Alloh limpahkan keberkahan dalam keseharian kita.
Ada satu kisah teman saya yang Alloh wafatkan saat di perjalanan. Qodarulloh, saat dia duduk disamping suaminya yang sedang menyetir, ada satu benda kecil saja serupa besi, melesat menembus kaca depan mobilnya, tepat mengenai pelipis si teman. Dia reflex mengucapkan kalimat thoyyibah. Setelah itu Alloh cabut nyawanya. Innaalillaahi kemudian alhamdulillah karena Alloh karuniakan kematian kepadanya ketika lisannya reflex mengucapkan dzikrulloh. Semoga husnul khotimah. Karena lisan yang membiasakan dzikrulloh, maka dalam kondisi kaget pun, biasanya yang terlontar adalah kalimat dzikrulloh.
Satu lagi kisah yang saya catat dalam ingatan saya ketika membaca buku keajaiban para mujahid. Dalam beberapakali serangan, beliau selalu lolos dari kematian yang secara kasat mata seharusnya sudah wafat. Tapi selalu saja Alloh selamatkan. Saat ditanya oleh para sahabatnya, beliau mengatakan, bahwa beliau selalu merutinkan dzikir..
"Bismillaahilladzii laa yadlurru ma'asmihii syai'un fil ardli wa laa fissamaa'i wa huwassamii'ul 'aliim"
Ada lagi kisah yang saya baca ketika seorang wanita melewati satu jalan yang gelap dan sepi karena sudah malam, sementara di situ ada seorang lelaki yang jahat dan biasa menggangu, tapi ternyata Alloh selamatkan si wanita. Saat lelaki jahat itu ditangkap karena mengganggu pejalan lain, dia mengatakan bahwa matanya melihat sosok yang mengerikan saat si wanita pertama lewat sehingga dia mengurungkan niatnya untuk mengganggunya. Setelah si wanita ditanya, ternyata dia selalu merutinkan membaca ayat kursi. Dan Alloh menjaganya dari bahaya yang menghadangnya.
Yuk, ah... Para emak dan bapak dan siapa saja, kita rutinkan dzikir pagi sore, kita rutinkan dzikrulloh. Karena dzikrulloh itu akan menenangkan dan Alloh selalu dekat dengan hamba NYA yang selalu mengingat NYA.
allohu'alam.
Baarokalloohu fii kum
Eka Rosaria
Bekasi, juli 2018
Minggu, 11 Februari 2018
Poligami
Poligami
Seorang akhwat yang dipoligami jadi istri ke dua, pernah bikin status agar para wanita menerima syariat poligami dan ikhlas mempraktekannya. Dia terlihat semangat dan gencar menyuruh wanita lain agar mau dipoligami.
Saya tersenyum. Tidak ada masalah.
Kenapa?
Karena memang dia bahagia dengan pernikahan poligaminya. Meski jadi yang ke dua, tapi posisinya sama dengan istri pertama. Tidak dibedakan dalam hal apa pun. Bahkan tinggalnya satu rumah dengan istri pertama suaminya. Istri pertama juga sangat baik, menyayanginya layaknya adik sendiri. Sering bercanda. Gantian mengasuh anak. Mereka sangat bahagia.
Ada juga akhwat yang tidak dipoligami, tapi sangat takut dan resah hingga menulis status kemarahannya kepada suami yang memperlihatkan para istrinya. Padahal mereka yang melakukannya tidak ada masalah.
Wajar juga jika dilihat dari sudut pandang perasaan seorang wanita yang halus dan pencemburu. Meski sebenarnya ga perlu juga untuk marah. Toh kejadiannya tidak menimpanya.
Ada akhwat yang dipoligami tapi akhirnya gagal dan kembali sendiri. Kemudian menulis status agar selalu berhati-hati jika didatangi ikhwan yang hendak poligami. Jangan asal diterima. Harus jelas segala kesiapannya, sehingga tidak ada masalah di kemudian hari.
Wajar juga..
Karena poligaminya ternyata bermasalah. Hingga meninggalkan rasa sakit di hatinya.
Poligami ga semudah yang dibayangkan, ada syarat dan ketentuannya. Ga bisa asal mengamalkan sunnah. Karena poligami seharusnya menyelesaikan masalah, bukan menambah masalah.
Ya, ya, ya..
Segalanya bisa kita pandang wajar.
Dan yang lebih penting adalah, melihat status kita sebagai manusia yang akan diminta pertanggungjawaban kelak, maka fokus kita adalah berilmu dan beramal.
Warna warni hidup..
Semoga Alloh selalu memberikan hidayah dan taufik pada kita..
Senin, 15 Januari 2018
Nawar boleh maksa jangan
Catatan siang
Dalam dunia dagang, jual beli, nawar itu hal biasa. Apalagi bagi emak-emak. Bisa jadi harga hidup yang namanya nawar itu, harus. Tapi terkadang ada rasa jengkel saat nawarnya kebangetan. Meskipun kalau mau disikapi biasa sih sebenernya biasa aja. Apalagi jika barang ditawar juga hanya sekedar benang jahit satu biji, atau bakwan di mpok tukang pecel keliling.
Satu hari, datanglah seorang ibu ke warung jahit saya. Dia mau beli benang. Saya kasih harga biasanya, trus dia mulai nawar. Saya senyumin ajah. Lha, cuma benang sebiji dengan harga pasaran, masa iya kudu ditawar juga.
"Boleh atuh, bu, harga benangnya dikurangin. Kayak ngejual ke siapa aja."
Si ibu mulai melancarkan jurus sksd. Saya memang tahu dia karena beberapa kali pernah datang ke warung jahit, tapi tidak sampe kenal banget. Hanya karena sesama orang Sunda aja. Mungkin anggaplah kita ini sodara. Saya cuma bales gini,
"In syaa Alloh harganya ga sampe ibu kudu jual rumah."😇
Saya juga pernah gemes banget sama seorang ibu saat dia jajan bakwan di mpok tukang pecel keliling. Trus dia mulai nawar deh tuh bakwan. Sementara saya senyum kecut ngelihatnya. Tapi si mpok pinter, dia jawab waktu si ibunya nawar bakwan.
"Masa sih beli bakwan aja kudu ditawar."
Akhirnya si ibu-nya malu sendiri. Soalnya saya juga ikut negur sambil senyum biar dia ga tersungging. Gimana kita tidak ikut komen, mobil bagus kebeli, rumah bagus habis renovasi, motor lebih dari satu, masa iya cuma bakwan aja ditawar. Terlaaalu..
Nah,
Emak-emak...
Saya juga hoby yang namanya nawar, terutama kalo pas beli baju, bahan, atau barang yang memang pantas kita tawar. Tapi itu juga dengan bahasa yang bagus. Semisal, boleh kurang ga nih. Nawar sewajarnya tapi tidak sampe maksa, yang ada ntar yang jualan suka kesel. Apalagi nawar sama abang sayur yang untungnya juga kadang ga terlalu banyak.
Tapi jangan samakan kita dengan para bapak yang sifat aslinya anti nawar. Malah yang ada suka dilebihkan. Biarin ajah, katanya. Sama juga dengan anak gadis, kalo lihat emaknya nawar malah suka ngasih saran, katanya ga usah nawar apa lah, kasian. Hehe.. Belum jadi emak-emak soalnya. Kalo tau mah, beuuhh... Itu tukang sayur kadang sampe suka rada ngotot kalo ngadepin emak-emak yang rada rese kalo nawar. Padahal tukang sayur itu jadi baek banget kalo kitanya ga suka nawar, malah suka dimurahin. Begitu..
Nawarlah sewajarnya. Dan bayarlah semestinya.
Elvy sukaesih bawa rantang
Terimakasih dan selamat siang
😉😉
Sabtu, 13 Januari 2018
Walimahan
Catatan Eka Rosaria
Walimatul ursy atau perayaan pernikahan adalah sunnah yang tentunya berpahala. Dengan sederhana hanya dengan seekor kambing atau lebih dari itu dengan makanan beragam dan segala kemewahannya.
Bagi tuan rumah, menyediakannnya menjadi satu kebahagiaan. Begitu pun bagi yang para tamu yang datang. Tapi akan menjadi sejelek-jeleknya makanan jika perayaan itu hanya mengundang orang kaya sementara orang miskin terlupakan.
Entah kenapa, selalu terselip rasa sedih saat menghadiri walimah yang menyediakan makanan secara prasmanan. Seiring waktu, hari ini memang sudah jarang orang menyediakannya dalam bentuk wadah. Berbeda dengan zaman saya kecil dulu. Zaman dulu, setiap tamu yang datang akan disuguhi cemilan alakadarnya kemudian nasinya dan lauknya diwadahi besek untuk dibawa pulang. Berbeda dengan hari ini. Makanan tersedia prasmanan beraneka ragam dan rasa. Kita bebas mengambil dan memilihnya. Ditambah minuman dan makanan lain yang tak kalah menarik untuk dicicipi.
Setiap orang seperti berlomba mengambil semua makanan sebanyak-banyaknya lalu makan sesedikit mungkin. Entah apa yang ada di pikirannya saat mengambilnya. Menyisakan banyak nasi dan lauk yang tak jarang masih utuh di piringnya. Gengsi atau sekedar ingin mencicipi?
#
Siang yang meriah pada sebuah walimah. Para tamu berdatangan silih berganti. Menikmati makanan yang melimpah di atas meja prasmanan.
Saya mencari tempat duduk setelah mengambil makanan. Terlihat di satu kursi satu piring penuh makanan. Daging rendang yang masih utuh, ayam kecap juga utuh, serta nasi dan lauk lainnya yang terlihat hanya sedikit sekali terambil. Saya menghela nafas. Sedih menyeruak. Rasanya sakit. Lebay? Tidak!
Dan saya mengambil rendangnya yang utuh itu dan saya berikan pada teman saya lalu dia habiskan. Malu? Mungkin, tapi saya lupakan rasa malu itu.
Bagi sebagian orang, ada yang setahun sekali baru ketemu yang namanya daging, menunggu saat idul adha tiba. Bahkan mungkin ada yang tidak pernah.
Lalu bagaimana dengan kondisi sodara muslim di belahan bumi lain dengan suasana kelaparan mendera begitu hebat? Lalu kita di sini dengan seenaknya membuang begitu banyak makanan? Hasbunalloh..
Saya masih ingat dengan sebuah tayangan video anak-anak muslim di Suriah sana, dengan berlinang air mata dia bilang kalau sudah tiga hari tidak ketemu makanan. Lalu ada anak-anak yang mengais remahan roti di jalanan. Saya menangis melihatnya, andai dia anak kita, anak kalian, saya yakin kalian pasti akan menangis, bahkan hati rasanya sakit sesakit-sakitnya.
Kondisi terbuangnya makanan saat walimah ala prasmanan membuat saya berpikir lain. Saya bicara dengan suami tentang hal ini. Tentang sebuah pernikahan dan walimahnya yang tidak menimbulkan dosa karena mubadzir.
"Mungkin satu saat nanti, kita akan mengadakan walimah nikah cukup di masjid sesudah kajian subuh. Makan dengan jamaah yang ada. Atau cukup datang ke KUA,, lalu makanannya kita bagikan ke panti asuhan."
Itu cita-cita suami dan saya. Saya hanya ingin pernikahan yang berkah dan tidaklah datangnya keberkahan kecuali dengan sesuatu yang baik dan tidak meninggalkan dosa.
#
Setiap tuan rumah berhak mengadakan walimah dengan sederhana atau lebih dari itu. Tapi perlu dipikirkan, bahwa semuanya harus mendatangkan pahala dan tidak meninggalkan dosa. Menyediakan kursi sesuai dengan kapasitas undangan dan menyiapkan tempat berbeda antara lelaki dan perempuan supaya tidak ikhtilath.
Nikah adalah sunnah. Walimah adalah sunnah. Dan keberkahan tidaklah didapatkan kecuali dengan kebaikan. Membentuk keluarga samara tidak hanya suami istri yang melaksanakan hak dan kewajiban di antara keduanya. Tapi juga diawali saat mulai kenalan, lamaran, nikah, walimah, semuanya harus dilakukan dengan baik sesuai cara yang disyari'atkan. Tidak melanggar aturan dan tidak melakukan kesia-siaan. Hingga nanti Alloh turunkan keberkahan pada rumahtangganya dan juga keturunanya.
Alloohu'alam
Kamis, 04 Januari 2018
Poligami 2
#poligami
Satu teman saya yang sangat baik hatinya. Alloh taqdirkan suaminya menikah lagi sampai punya empat. Dia punya 3 madu.
Satu hari saat bertemu, dia bilang;
"Mi, aku lagi kangen".
"Sama siapa?"
"Sama madu-ku, istri si abi yang lain".
Saya cuma ber haahhh... Ih meni hebat ya teman saya satu ini. Di saat yang lain bisa jadi cemburu dan marah kepada madunya. Bahkan tadi subuh kajian dahsyatnya bahaya 'ain yaitu di antara sebabnya adalah kecemburuan antar istri bagi yang dipoligami.
Tapi teman saya?
Dia malah kangen. Keren yah.. Jarang kalo bagi saya ada istri pertama yang seperti itu.
Dan saya,
Jujur selalu mendoakannya.
Untuk posisinya yang punya banyak madu. Semoga Alloh berkahi kehidupannya. Menjadikan keluarga besarnya selalu sehat dan rukun sampai ke jannah.
Eh, ga lupa. Cemburu di antara mereka jelas sekali ada. Kemampuan yang Alloh berikan pada seseorang soal kepasrahannya dalam menerima tadqir, itulah yang membuatnya bertahan dan semuanya berjalan baik-baik saja.
Sekali lagi. Jangan banyak mendebat hal ini. Cukup imani ayatnya. Dan lihat kisah nyatanya. Semoga menjadi pelajaran.
Untuk teman saya yang baik hati. Dia sedang baca status saya ini 😀 baarokalloohu fii ahliikum. 😘
Jangan asal
#poligami
Astaghfirullooh..
Kalimat awal yang seyogyanya diucapkan, memohon ampunan Alloh atas hal salah yang dilakukan dengan sengaja atau pun tidak. Inilah kelemahan manusia pada hakekatnya.
Saat surat almaidah bicara tentang pentingnya pemimpin muslim, maka kemunafikan muncul secara nyata. Yang menerima dan menolak tak lagi mampu disembunyikan. Maha Adil Alloh. Itulah sunnaatulloh.
Pun saat ayat poligami digaungkan dan kemudian dibuktikan dengan beberapa ustadz yang melakukannya. Saat itu, tampaklah siapa yang mendukung dan tidak mendukung. Bahkan ada yang sampai membenci dan mencaci pelakunya.
Jikalau yang berkomentar tidak setuju kemudian marah adalah orang kafir, itu bukan masalah. Tapi jika yang komentar adalah muslim dan muslimah yang notabene faham, maka ini adalah musibah.
"Umi, gimana nanti kalo suaminya poligami. Umi siap, ga? ".
Pertanyaan itu sudah sering saya terima. Maka jawaban saya adalah. Saya bergantung pada taqdir Alloh saja. Hal itu belum terjadi sama saya. Maka saya kesampingkan rasa takut itu dan lebih berfikir bagaimana menjadikan rumahtangga yang saya jalani menjadi wasilah sampai ke jannah. Terus ketakutan akan taqdir yang belum terjadi juga untuk apa?
Apakah saya sok kuat?
Jawabannya tidak. Bahkan saya sangat lemah. Lemah sekali. Tapi apalah daya kita sebagai manusia biasa. Bukankah memang tugas kita menerima dan mengimani taqdir?
Maka saya heran, saat ada muslimah dengan marah tidak terkendali menanggapi poligami seorang ustadz yang menjadi berita hangat di tanah air. Kemudian tetiba berfatwa kalau poligami harus dengan janda tua banyak anak. Katanya itu sunnah Nabi.
Istighfar lagi...
Semua istri Nabi usianya di bawahnya saat beliau nikahi. Hanya satu yang usia cukup sepuh, yaitu Saudah. Mereka ibu kita, ummahatul mukminin yang mana mereka adalah wanita pilihan yang sangat istimewa. Bahkan di antaranya ada yang langsung Alloh nikahkan dengan beliau.
Bahkan dalam buku 'mimpi-mimpi orang sholeh', semua istri Nabi sebelumnya diberi mimpi oleh Alloh bahwa mereka akan menikah dengan lelaki paling mulia, yaitu Muhammad shollalloohu 'alaihi wa sallam.
Apa hubungannya tulisan saya?
Wahai Muslimah..
Jangan ketidaksukaanmu atas poligami ini menyeretmu akan fitnah tanpa sadar. Ummaahaatul mukminin adalah janda muda. Bukan tua seperti yang kalian tuduhkan. Mereka ibu kita yang mulia.
Maka, tahanlah nafsumu. Jangan sampai justru ketakutanmu akan menjadi kenyataan dalam hidupmu.
Apalagi sang ustadz pelaku poligami itu tidak sedikit pun membuat duniamu rugi. Malah bisa jadi nafsumu yang membuat akhiratmu rugi.
Kita hanyalah penonton bagi kehidupan orang lain. Tugas kita mendoakan dan berdoa untuk kita dan mereka. Semoga Alloh berkahi. Jika pun mereka keliru, belajarlah dari itu. Semoga kita tidak mengalaminya.
Allohu'alam bishshowaab.
Eka Rosaria
Bekasi, oktober 2017
Ruqiyyah mandiri
Alhamdulillaah..
Ini air sebaskom kecil yang dicampur bubuk daun bidara, kemudian diruqiyyah sendiri. Bi idznillaah, apa yang saya rasakan sakit begitu menyiksa, setelah dua kali mandi dengan bilasan akhir pakai air ini, rasa sakit itu hilang.
Waktu itu keluhan saya sakit luar biasa di pundak kanan lalu merembet sampai ke belikat kanan,menjalar ke tangan kanan dan lutut serta paha kanan. Sakitnya luar biasa. Sakit yang bukan hanya bisa enak kalau diurut. Rasanya antara pegel, panas dan ngilu. Sempat disarankan untuk periksa ke dokter syaraf oleh teman saya yang seorang dokter. Tapi belum sempet dan Qodarulloh saya ambil duluan cara yang ini.
Qodarulloh saya masih punya bubuk daun bidara yang sempat saya beli di mbak Etty Sunanti, kemudian saya campurkan di baskom kecil isi air.
Saya serahkan ke suami untuk diruqiyyah. Dengan dibacakan surat alfatihah, ayat kursi, alfalaq, annas, alikhlas. Alhamdulillah Alloh izinkan sakit saya sembuh. Dan saya rutinkan mandi pakai air ini. Alhamdulillah..
Bagi yang mau daun bidara, yang sekitaran Cibitung, bisa langsung ke rumah saya. Petik sendiri ambil semaunya. Silahkan. Bahkan jika ketemu bijinya yang sudah kering, in syaa Alloh bisa ditanam.
Sungguh Alquran itu adalah obat bagi segala penyakit, bagi orang yang yakin.
Eka Rosaria
Oktober 2017
Menulislah
Menulislah!
Menulislah hal-hal yang orang lain bisa mengambil manfaat dari apa yang kita tulis. Sebarkan kebaikan meski hanya lewat tulisan sederhana. Meski tanpa like atau komen bejibun. Karena setiap kebaikan pasti ada nilainya. Juga ada pahalanya. Jangan mengukur diri belum baik. Karena iman itu naik turun. Tidak ada manusia yang sempurna.
Sebagaimana jika banyak bicara banyak salahnya. Juga saat menulis, bisa jadi ada banyak yang tidak berkenan. Maka dari itu, semoga yang berteman dengan saya, sudi memaafkan jika ada kesalahan.
Setiap orang akan diingat tentang apa yang ditinggalkannya. Semoga saat kita meninggalkan, kebaikanlah yang ditinggalkan dan diingat orang.
Jangan kebiasaan
Kemaren ketemu temen ibu-ibu, lalu dia cerita. Ternyata emang menjengkelkan sama temen atau siapa aja yang seneng japri lewat wa ngirim artikel sepuas dia. Apa aja yang dia dapat, dia kirimkan. Tak peduli apa pun.
Akhirnya dia tegur temennya.
"Bu, tolong jangan kirim-kirim artikel atau apa pun itu di japri wa saya. Karena artikel atau tulisan apa pun itu saya sudah baca di grup. Bahkan ga cuma di satu grup. Grup lain juga kirim hal sama. "
Kalau saya sih, selama ini, saat ada yang begitu, saya males bilangin. Cukup saya blokir biar tidak mengganggu. Gimana ga, sehari ngirim artikel lebih dari tiga kali. Udah kayak minum obat. Belum lagi di jam tidur bahkan larut malem. Ngapain coba?
Sesekali berfikirlah!
Ga semua yang kita dapat, entah itu berita atau artikel apa aja trus seenaknya kita bagikan ke temen atau ke siapa aja tanpa adab. Ingat ya, tanpa adab. Karena hari gini hampir setiap orang punya akun sosmed. Mereka dapat baca hal itu di sosmednya. Belum lagi di grup wa yang diikuti.
Bahkan ada yang kalau di grup itu cuma kirim -kirim artikel. Ga pernah nyapa teman -temannya. Padahal di antara manfaat dibikinnya grup teman sekolah itu untuk sapa-sapa tanya kabar dll yang sifatnya komunikatif.
Jadi, plis deh... Mikir lagi.. !!!
Karena ternyata apa yang kita lakukan itu sudah mengganggu privasi orang lain. Bukan manfaat yang didapat, tapi justru sangat menyebalkan.
Jadi, jangan pernah diulangi lagi..
Kalau pun kita kirim artikel atau tulisan lewat japri, sapalah! Tanyalah kabar, saling doakan. Itu jauh lebih manfaat.
😊
Tulisan
Sepagian kembali baca artikel di grup. Isinya mungkin biasa, tentang keutamaan sedekah. Dilengkapi dengan kisah Nabi yang entah shohih atau palsu, tapi sangat jelas meragukan.
Tapi yang luar biasa adalah kalimat pembukanya.
Dan ada yang menggelitik hati saya. Di tulisan paling atas tertulis,
"Yang tidak mau membaca tulisan ini adalah orang yang paling sombong "
Aneh bin ajaib.
Sebuah tulisan diawali dengan kalimat penghakiman. Entah siapa yang menulis. Apa dasarnya kalimat itu ditulis. Sungguh kalimat ajaib. Entah apa juga maksud si penulis itu. Baru nemu saya. Kesombongan bisa diukur dengan baca dan tidaknya sebuah tulisan yang hanya artikel biasa. 😇
Di zaman serba sosmed, yang like dan share aja sudah bisa masuk surga. Seolah-olah masuk surga begitu mudahnya hanya dengan like dan share.
Dan sekali pun saya ga pernah mau like dan share artikel atau poto yang di bawahnya ada saran like dan share bisa masuk surga. Meski didoakan, ga begitu juga kali, ya.
Kita ini sering latah, apa aja gampang dibagikan. Ga peduli shohih atau palsu. Kisah para Nabi itu mudah dicari, Alquran banyak menuliskannya. Hadits shohih pun banyak mencatatnya. Jadi, sekiranya kisahnya agak asing, aneh, biasanya pun ada reaksi.
Mengambil hikmah dari setiap kisah adalah keharusan. Tapi membuat kisah palsu atas nama Nabi atau sahabat, kemudian disebar luaskan, ini yang jadi masalah. Kisah shohih para Nabi dan sahabat atau tabiin dan orang sholeh lainnya, rasanya tidak sulit mencari, asalkan mau saja kita mencari dan membaca bukunya.
Yu, ah.
Jeli dengan artikel kisah palsu. Hikmah seharusnya diambil dari kisah shohih. Justru bahaya jika itu dari kisah palsu.
Menulislah kisah yang shohih saja. 😘
Eka Rosaria
Hape
Bagi suami saya, hape bukan segalanya. Segalanya ga harus pake hape. Meski pun banyak yang protes, kenapa kok ga mau bawa hape, ga mau punya hape. Kan jadi susah kalo mau komunikasi, mau nanya dll.
Saya jadi sering konprensi pers😊 kalo ditanya alasannya kenapa. Saya jelaskan. Suami saya paling ga suka saat sedang ngajar kemudian harus angkat telpon. Suaranya mengganggu dan waktunya terpotong. Juga konsentrasi sering buyar. Itu sudah komitmen. Ga bisa diganggu gugat.
Apalagi ada yang usul agar punya wa supaya bisa nanya. Itu imposible 😀 baca wa saja ga mau. Apalagi kalo disuruh baca artikel panjang. Nanya cukup ke wa saya sebagai menejernya 😀. Sempat dijawab, belum sempet ya amma ba'du jawabannya.
Suami saya ga mau ribet sama hape. Biar hidup tenang dan tidur nyenyak, katanya. Walau pun akhir nya saya paksa kalo pas saya mudik, saya tinggalin hape dan wa nya. Awalnya ga faham dan ga mau faham. Tapi akhirnya bisaaa 😀 tapi husus kalo saya tinggal.
Alasan lain suami saya ga mau bawa hape adalah, karena males direpotin. Sepert kisah ini 😀
"Tadi selesai ngajar jamaah pada ketawa"
"Emang kenapa? "
"Aku bilang, kenapa kalo saya ngajar ga mau bawa hape? Karena saya takut sama istri saya"
"Lha, kok bawa-bawa aku? "
"Trus aku bilang lagi. Iya lah, saya takut kalo saya bawa hape, nanti ada sms masuk dari istri saya. Minta bawakan sate lah, kebab lah, bakso lah, mie goreng lah, jadi serem saya"
"Dasaar"
😀😀😀😀
Nahaarukassa'iid.
Menulis adalah menyimpan rindu, uhuyyy 😘
Mati
Innaalillaahi
Kalimat itu reflex saya ucapkan tanpa suara. Iringan pembawa jenazah itu membuat jalanan sedikit berhenti. Suara-suara tahlil dikumandangkan, turut mengantarkan si jenazah menuju rumah terakhirnya.
Bagi mukmin, pelajaran yang paling membuat getar hati adalah kematian. Karena akan berfikir, bagaimana jika saya yang mati? Di mana saya akan mati? Bagaimana akhir kematian saya? Bagaimana setelah saya mati? Apa yang saya bawa saat nanti mati? Beragam pertanyaan itu pasti akan dirasakan setiap mukmin. Karena kematianlah sebaik-baik pelajaran yang harus diambil.
Saat di jalanan, keselamatan akan menjadi prioritas. Lambat asal selamat, alon asal kelakon. Seharusnya kita punyai prinsip itu. Meski kematian adalah taqdir, tapi tawakkal itu juga wajib. Berhati-hati di jalan adalah keharusan, demi kita dan orang lain tentunya. Jangan sampai kecerobohan kita dan masa bodonya kita saat di jalanan, menjadi sebab kecelakaan bagi kita dan orang lain. Maka berhati-hatilah!
Dan kematian adalah hal yang paling tidak disukai, karena akan memutus segala kenikmatan di dunia. Tapi kematian tidak bisa dihindari. Dan menunggu yang tidak pernah pasti adalah saat menunggu kematian.
Tidak ada harapan atas taqdir kematian, kecuali husnul khotimah.
😘
Hutang
Hutang
Belum pernah sekali pun saya seberani saat itu. Nekad mendatangi rumahnya sambil tanya karena belum pernah tahu di mana. Saya ucapkan salam berkali-kali sampai akhirnya yang punya rumah keluar. Dia sedikit kaget melihat saya, kemudian senyum watados alias wajah tanpa dosa.
Saya sampaikan, saya mau minta uang saya yang dipinjam suaminya lewat suami saya. Saya juga bilang, itu uang saya dan jumlahnya ga sedikit kalau buat saya, jadi tolong dikembalikan sekarang juga. Karena saya ga akan mau datang untuk ke dua kali ke rumahnya.
Dia mulai alot. Alasan ini itu, uangnya ga ada. Katanya uangnya habis buat bayar ini itu. Pokoknya dia berusaha lepas tangan. Saya ga mau kalah. Tidak bergeming. Saya tetap duduk di teras luar, tidak mau masuk ke rumahnya. Setelah lama sekali saya di situ, dia nyerah juga, akhirnya dia kembalikan uang saya.
Entah, dari awal saya sudah jengkel dengan sikap dan kebiasaannya. Kebiasaan berhutang dengan alasan yang dibuat-buat. Alasan ortunya masuk rumah sakit lah, mertua sakit lah, dan masih banyak lagi alasan yang ga masuk akal. Hampir semua tetangganya dan orang yang mengenalnya tahu kebiasaan buruknya. Suami istri sama suka bohong. Maka saya pun heran, entah kekuatan apa yang mendorong saya sampai nekad nagih hutang.
Karena awalnya saya kurang suka dengan cara suaminya. Tidak pernah ke masjid, ga ada sholat jamaah di masjid, sekalinya ke masjid cuma mau ketemu suami saya dan pinjam uang. Ini ciri orang ga beres. Karena suami saya aslinya memang ga kenal dengan orang ini. Suami saya ngasih seperti kaget, tetiba orang itu pun datang ke rumah saya. Sementara kita saja aslinya tidak kenal. Aneh, bukan?
Selama ini, saya ga pernah berani yang namanya nagih hutang. Maka antisipasi saya adalah, saya ga sembarangan jika ada yang berhutang, atau mendingan saya bilang jujur bahwa urusan uang adalah urusan suami saya. Saya ga mau resiko harus nagih lalu kemudian orangnya hilang atau susah ditagih. Saya ingin lebih menjaga perasaan sendiri saja, daripada pusing karena orang hutang, lebih baik cari tenang.
Maka saya cukup heran ketika ada orang yang lama ga ketemu dengan kita, kemudian saat ketemu tetiba urusannya untuk hutang. Atau saya heran ketika ada yang marah saat temannya tidak mau memberinya hutangan lalu menganggapnya ga peduli saat teman sedang kesulitan.
Bagi saya pribadi, teman saat sulit bukan hanya soal hutang uang. Hutang dengan teman itu harga diri kalau buat saya. Saya tidak ingin merusak pertemanan hanya karena urusan hutang. Ini bukan karena saya tidak butuh hutang. Tapi lebih ingin menghargai pertemanan, saya ga mau dianggap memanfaatkan.
Jika pun sampai kita berhutang, catatlah dengan tertib. Sampaikan kapan ingin mengembalikan. Dan beri kabar jika belum bisa melunasi. Karena memang hutang itu bagian dari cara mendapatkan rezeqi jika kita jujur saat mengembalikannya. Buatlah orang percaya. Dan terakhir janganlah bermudah-mudah dalam berhutang jika kondisi bukan sedang mendesak.
Karena hutang bagian dari kehormatan seorang muslim. Maka kehormatan yang boleh dirusak di antaranya adalah mengabarkan kepada khalayak ramai tentang kelakuan orang yang gemar berhutang tapi ga mau bayar.
Dan kematian seorang syahid saja masih tergantung selama hutangnya belum terlunasi. Apalagi kita. Maka berazamlah, bahwa saat kita sulit, Alloh lah yang tidak pernah luput atas kebutuhan kita. Alloh lah yang akan menjamin kita, dengan syarat taqwa.
Eka Rosaria
Bekasi 2017
Anak gadis
Anak gadis kita
Saat kecil dulu, hal menyenangkan itu saat menjelang maghrib kemudian nyari ayam peliharaan kita, kemudian kita giring masuk ke kandang. Begitu juga dengan tetangga, melakukan hal sama dengan ayamnya. Maghrib itu si ayam ga boleh ada di luar. Harus anteng di kandang.
####
Satu malam di sebuah warung tenda. 3 anak gadis usia sangat belia terlihat duduk bersama 3 atau 2 lelaki yang usianya terpaut jauh. Anak gadis itu hampir sama usianya dengan anak gadis saya, kira-kira. Dandannya mencolok, memakai baju seperti kurang bahan. Dengan rokok di tangan, mengepulkan asap layaknya perempuan panggilan. Secara dzohir, tidak ada husnudlon pada kondisi mereka saat itu.
Saya menatap wajah ke tiganya. Lalu menatap si lelakinya. Ada rasa sakit di hati. Begitukah mereka? Di mana orangtua nya? Mungkin saja tidak tahu, karena banyak anak gadis nya yang izin belajar malam di rumah teman, tapi nyatanya kelayapan malam dengan lelaki hidung belang. Entah demi apa, bisa jadi demi sebuah kesenangan fana. Bertukar dengan harga diri yang tak dapat dijaga.
Lalu saya lihat anak gadis saya yang duduk di sebalah saya dan bapaknya. Ya Robb, jagalah anakku, mampukan dia menjaga kehormatan dirinya dan juga orangtuanya.
####
Malam yang lain di sebuah warung tenda. Lebih dua anak gadis abg bertanya harga saat selesai makan. Dengan pakaian serba terbuka mereka keluar. Disambut sejumlah lelaki di mobil yang parkir diluar warung. Mereka tertawa dan masuk ke dalamnya. Entah kemana. Entah mau apa. Secara dzohir, tidak ada husnudlon untuk mereka.
Saya pun masih tetap bertiga dengan anak gadis dan bapaknya. Kembali ada rasa sakit. Sebegitukah? Ah, Robbii.. Lindungilah anak keturunan kami dari pergaulan yang menyesatkan dan menyesakkan hati ini.
###
Anak gadis itu tetiba menikah, padahal belum juga lulus sekolah. Gadis putih murah senyum yang malang. Yang menikah karena ternyata sudah hamil empat bulan. Anak gadis itu pendiam. Sangat sopan. Dan tidak terlihat bergaul bebas seperti anak gadis yang nakal. Tapi ternyata main belakang. Setelah itu hanya tinggal penyesalan.
###
Anak gadis tentu saja beda dengan ayam. Jika ayam saja saat maghrib kita cari dan kita suruh masuk kandang, maka lebih lagi dengan anak gadis.
Khawatirlah saat anak gadis kita masih belum pulang saat matahari hampir tenggelam. Pastikan keberadaannya, juga siapa teman-temannya. Jangan membiarkan mereka di luaran tanpa dampingan dan bimbingan. Sungguh ini zaman di mana kemewahan hidup bisa ditukar dengan kehormatan. Dan kita orang tua, hendaklah selalu mengawasi pergaulannya.
Pada sujud kita kepada Robb yang maha memelihara, pinta kami atas anak gadis kami. Semoga dilindungi, hingga saat mereka nanti menemukan belahan hatinya yang diikat dengan sumpah halal.
Eka Rosaria
Bekasi 2017
Senjata istri
Senjata istri
Dalam alquran, istri digambarkan oleh Alloh sebagai orang yang punya sifat membuat tenang suami. Litaskunuu ilaihaa. Faktor istri lah penyebab ketenangan bagi suaminya.
Banyak hal yang bisa dilakukan seorang istri yang menghadirkan ketenangan bagi suaminya. Selain melayaninya di tempat tidur, juga pelayanan lain yang membuat suami senang.
Dan setiap istri punya cara tersendiri dalam menyenangkan suami. Contohnya saat menyambut suami pulang kerja. Dalam kondisi lelah dan capek, suami butuh sesuatu yang membuatnya rilex.
Selain senyuman yang disuguhkan saat suami datang, ada pelayanan lain yang akan membuatnya lebih senang. Memberinya pijatan, misalnya. Atau membersihkan wajahnya sehabis kena debu jalanan kemudian menotok wajahnya supaya lebih segar.
Nah, para istri..
Sediakan senjatanya di rumah. Setelah suaminya makan dan bersih-bersih, mulailah bersihkan wajahnya kemudian totok dan terakhir berikan pijatan pada kaki pusat capek dengan alat pijat.
Menuju sakinah.
Sakinah itu perlu usaha.
Semoga tercapai cita-cita sakinah dalam rumahtangga. 😘😘😘
Eka Rosaria
Bekasi 2017
Banjir
Banjir mulai terjadi di beberapa kota. Menyisakan banyak duka, entah itu materi atau pun perasaan. Menjadi korban banjir rasanya maa syaa Alloh. Tak dapat digambarkan susahnya.
Ayolah,
Mulailah dari kita sendiri.
Jangan buang sampah sembarangan yang bisa menghambat aliran air di sungai atau kali.
Berfikirlah layaknya orang yang memang pernah merasakan bangku sekolah. Karena yang berpendidikan, selayaknya faham sebab dan akibat. Saya beberapakali marah kalau pas lihat ada yang buang sampah ke kali. Saya bilang, situ yang buang sampah, diikuti yang lainnya, lalu kalau pas banjir karena sungai mampet oleh sampah, saya lah yang paling dulu kena banjirnya dan semua tetangga di sekitar saya.
Ayolah,
Mulai dari kita sendiri.
Sisakan ruang tanah untuk resapan air di rumah kita. Jangan dihabiskan oleh keramik indah demi nafsu karena rumah ingin bagus. Sampai-sampai saat hujan turun, air menjadi bingung mau tinggal dimana. Akhirnya air menggenang kemudian jadi banjir.
Ayolah,
Alquran sudah menjelaskan bagaimana hujan itu turun kemudian meresap ke dalam tanah hingga menyuburkan berbagai tanaman. Itu artinya hujan punya rumah yaitu tanah. Janganlah tanah itu kita tutupi.
Ayolah,
Kita berfikir,
Jika sudah banjir, tidakkah kita justru tambah sulit? Barang kita banyak habis terendam air banjir. Hati kita jadi susah karena hidup tak lagi nyaman seperti biasa.
Banjir,
Semoga tidak mampir.
Sapulah saja orang-orang kafir yang tidak mau mikir. Yang banyak merugikan ummat muslim dan orang-orang munafik yang banyak menindas para ustadz.
Banjir,
Menyisakan banyak hal untuk difikir
😢
Kelompok
Kokohiyyun tegariyyun 😂
Bertahun berlalu kelompok ini hadir di masjid perumahan saya. Mereka sholat jamaah seperti biasa. Yang luar biasa adalah kelakuannya. Mereka bawa brosur kajian-kajian mereka lalu menempelnya di papan pengumuman. Tanpa akhlaq dan adab dengan pengurus masjid. Saking tegar nya mereka. Tegar alias teu gableg ka era.
Beda sekali dengan kelompok khilafah saat masuk masjid kami. Mereka datang dengan adab. Meminta kepada pengurus masjid kalau mereka ingin memakai masjid untuk kegiatan acaranya. Dengan mereka, kita respek.
Tapi kelompok kokohiyyun ini sebaliknya. Saat pengurus tahu ada brosur ilegal tertempel, papan itu dikunci. Saya pikir ga perlu protes. Karena memang itu kebijakan pengurus masjid. Dan tamu atau orang asing seharusanya faham adabnya saat masuk ranah orang lain. Karena setiap masjid pasti ada pengurusnya.
Saat itu beredar juga selebaran dari kelompok ini tentang beberapa kelompok yang dianggap ahli bid'ah. Intinya, tidak ada satu pun kelompok yang ahlus sunnah kecuali mereka. Mereka lah yang katanya firqoh najiyyah akhir zaman.
Saat tahu mereka tidak boleh menempelkan brosur apapun di papan pengumuman masjid, bukannya sadar, mereka mencari orang masjid yang dikira akan berfihak pada mereka, padahal bukan pengurus. Mereka kalap. Beneran tidak punya adab.
Sampai akhirnya ketua dkm mengumpulkan semua pengurus dan para jamaah dalam satu rapat. Kelompok kokohiyyun ini pun dipanggil. Tapi seperti biasa, kenyataannya nyali mereka ga sebesar semangat saatnya menempelkan brosur dan usaha lain untuk menguasai masjid.
Ketua dkm masjid kami bukan orang sembarangan. Wibawanya sangat nampak. Beliau seorang pejabat yang baik yang punya pengaruh besar di masyarakat. Setiap orang merasa segan kepadanya. Kontribusinya dalam memakmurkan masjid tidak diragukan. Bantuan moril dan materilnya tak terhitung. Alhamdulillah Alloh taqdirkan beliau menjadi pimpinan.
Dalam rapat malam itu, beliau beribicara kepada kokohiyyun yang akhirnya berani datang. Bahwa setiap masjid punya pengurus dan juga aturan. Ga sembarang maen masuk maen tempel tanpa permisi. Coba kondisinya dibalik, pasti mereka pun akan bersikap sama.
Ada beberapa dari mereka yang berani bicara panjang lebar, berani bilang kalau pancasila itu sesuai dengan Alquran, sehingga ketaatan kepada ulil amri yang musyrik bukan masalah besar. Intinya mereka banyak omong dan ngelantur. Semua pengurus ikut bicara menasehati dan membantah mereka. Kecuali satu orang, suami saya. Saat rapat hampir dinyatakan selesai. Semua minta agar suami saya bicara. Suami saya tidak mau bicara apa pun, hanya diam dan hanya bilang percuma bicara dengan kelompok mereka. Hanya akan muter-muter dan menghabiskan waktu. Itu saja.
Setelah malam itu mereka tidak kelihatan lagi. Hanya satu dua yang memang hatinya masih ada niat sholat jamaah di masjid tempat saya. Akhirnya Alloh tampakkan, siapa yang niatnya murni memakmurkan masjid dengan sholat jamaah lima waktu dengan yang punya niat lain ingin menguasai. Alloh maha adil. Tidak akan membiarkan rumahNya diisi oleh orang-orang yang niatnya lain.
Bekasi 2017