Kamis, 04 Januari 2018

Catatan 3

#catatan_hati_istri3

Seorang murid saya dulu akhirnya bercerita. Setelah saya lihat status medsosnya seperti sedang emosi tingkat tinggi.

Saya bertanya, kenapa?
Mengalirlah dia cerita. Tentang kakak iparnya (kakak ipar suaminya tepatnya)   yang rajin kirim sms ke hape suaminya. Menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Padahal sebetulnya curhat itu tidak terlalu perlu karena kakak iparnya punya suami. Kenapa tidak curhat dengan suaminya?  Kan begitu.

Setelah dia tanyakan dan ditegur baik-baik, si ipar sedikit beralasan. Sampai akhirnya dia marah tidak terima kalau suaminya dijadikan tempat curhat atau sekedar mencari solusi permasalahannya.

Alhamdulillah suami murid saya dulu itu tidak terlalu merespon iparnya. Dan dia terbuka dengan istrinya.

Begitu seharusnya. Suami terbuka kepada istri jika ada masalah yang sekiranya akan menimbulkan fitnah jika ditutupi. Karena suaminya sendiri yang menyerahkan hape nya kepada istrinya, Alhamdulillah akhirnya masalah berlalu.

Dunia curhatnya wanita memang selalu panjang urusannya jika salah menempatkan. Ditambah bisikan syetan yang tidak akan tinggal diam jika rumahtangga anak Adam adem ayem. Cita-citanya memang merusak hubungan suami istri. Maka carilah tempat curhat yang tidak akan membuat kita jatuh harga diri. Dan kepada Alloh lah sebaik-baik tempat mengadu.

Eka Rosaria

Catatan 4

#catatan_hati_istri4

Ada yang bertanya,

"Umi, boleh ga sih kalau kita menaruh simpati kepada lelaki lain. Contohnya kayak sekarang kan banyak ustadz-ustadz muda yang pinter-pinter tuh. Bertebaran di medsos dengan potonya yang menarik. Mereka ilmunya banyak, masih muda. Pokoknya rasanya seneng lihat yang seperti itu. Wajar ga, sih? "

Kurang lebih begitu. Seorang istri yang tertarik hati atau simpati melihat para ustadz muda dengan segudang ilmunya. Rasa simpati dan kagum yang kalau dibiarkan akan menjadi bola liar tak terkendali. Karena memang menjaga perasaan suka tidak pada tempatnya itu tidak gampang. Terkadang harus kesandung dulu baru akhirnya sadar. 

Saya tidak berani menyalahkan perasaannya. Bagaimana pun itu hak dia. Tapi saya hanya memberikan pandangan saja, agar rasa simpatinya tidak berubah menjadi rasa aneh dan berlebihan.

Menyukai itu hal wajar jika sesuai. Senang dengan ustadz yang ilmunya banyak, harus. Lalu kita mengambil ilmunya dan mengamalkannya. Itu hal bagus. Tapi kalau lebih dari itu, maka kita harus waspada.

Syetan itu tidak pernah tinggal diam menggoda manusia. Termasuk rasa hati saat melihat keindahan lain di depan matanya, kepandaian yang membuatnya kagum. Tapi ingat, hanya boleh sewajarnya saja.

Kita harus ingat kalau posisi kita adalah istri dari seorang suami. Bagaimana pun suami kita, itu lah taqdir kita. Jadi jangan berharap lelaki lain yang kelihatannya lebih pintar dan lebih menarik.

Lelaki pintar yang kita lihat, sudah pasti punya kekurangan yang belum tentu saat berjodoh dengan kita, kita akan sanggup menerima kekurangannya.

Maka saat kita merasa simpati itu datang, istighfarlah. Lalu lihat wajah suami kita. Dialah yang hidup dengan kita dan sudah terbukti mau menerima kekurangan kita. Ingat-ingat usahanya dalam menafkahi kita, capeknya, lelahnya, sakitnya. Juga lihat wajah anak-anak kita. Betapa malunya kita jika mengikuti rasa yang tidak seharusnya. Mereka, anak-anak butuh kita, ibunya.

Lelaki lain bisa jadi terlihat istimewa dan mengagumkan. Tapi suami kita pastinya jauh lebih dari itu. Karena saat ikrar nikah terucap, surga kita ada pada ridlonya. Apalagi yang akan kita kejar selain surga?

Eka Rosaria

Catatan 5

#catatan_hati_istri5

Dulu, kami menyebutnya bencong. Lelaki yang bertingkah seperti perempuan. Padahal parasnya ganteng, hidung mancung. Tapi ternyata dia tidak suka dengan perempuan. Gaya bicaranya juga kemayu.

Jadi ingat dengan teman masa kecil. Maen bareng, ngebolang bareng, kami bersahabat dengan teman lainnya dan dekat layaknya anak kecil zaman dulu.  Dia menyenangkan, kadang pandai merayu kalau ada mau. Kalau maen masak-masakan, pinteran dia dari kita. Anaknya luwes kalau urusan dapur. Bahkan dewasanya pernah jadi koki kebanggaan majikannya, masakannya enak. Pinter ngurus rumah dan ngurus hal yang sebenernya lebih cocok jadi urusan perempuan.

Kami sering ngobrol. Kadang iseng suka nanya, kenapa kok dia bisa luwes kalau ngerjakan pekerjaan dapur dan urusan perempuan. Dia cerita,

Ibunya adalah istri ke dua yang seringnya tidak dinafkahi suaminya, bapaknya. Datang ke rumah kalau lagi punya butuh saja. Galak. Ibunya diperlakukan tidak adil. Tidak diperhatikan kebutuhan lahirnya. Padahal darinya punya anak banyak.

Dalam hati kecilnya, teman masa kecilku marah sekali dengan bapaknya. Tapi jarang berani membantah, apalagi melawannya. Seringnya hanya menangis, sedih dengan keadaan ibunya dan adik-adiknya, sementata dia anak pertama. Hatinya sakit dan kecewa. Dia tidak tega melihat ibunya. Sampai akhirnya dialah yang mengurus ibu dan adik-adiknya. Bahkan sering juga dia yang kerja bantu orang nyuci atau nyetrika dan masak.

Semua pekerjaan rumah dia kerjakan. Nyuci baju, nyetrika, masak dan pekerjaan lainnya. Dia jadi terbiasa dengan hal yang berbau perempuan, lupa dengan kodratnya sebagai lelaki. Sementara ibunya pun mencari pekerjaan lain demi menghidupi keluarganya.

Teman masa kecilku trauma melihat sikap bapaknya. Sampai tidak terasa, dia berubah menjadi seorang lelaki lemah gemulai. Dan sama sekali tidak punya hasrat suka dengan perempuan. Hasratnya justru timbul kalau melihat lelaki ganteng.

Trauma, kecewa, melahirkan rasa lain di hatinya. Rasa sayangnya yang besar kepada ibunya, menjadikan dia takut dengan perempuan.

Eka Rosaria

Keinginan

Sebenernya, kadang-kadang nih, saya tuh pengeeen banget libur pesbukan. Pengen kayak yang lain, anteng ga resep pesbukan. Biar fokus sama jahitan, tulisan, dan akhirnya semuanya pada belum kelar. Sungguh ini godaan yang susah dilawan. Tapi saya suka kepedean, pemirsahh. Takut ada yang nyariin, kok saya ga ada.  Tolong jangan pada pengen muntah, ya. Gegara saya sok berasa dicariin. 😂

Tapi ga tau kenapa. Asal buka pesbuk, bawaannya tetep aja pengen nyetatus. Padahal sejak 20 tahunan lalu status saya naek tingkat dari lajang jadi istri trus jadi ibu.

Duluuu, kalo saya sok sibuk nulis status, suami saya pasti ngeledekin saya. Katanya saya itu sok sibuk seolah urusan ummat sampai lupa lautan. Bahkan kalo nih hape nempel mulu, dia sampe ngancem. Katanya pilih aku ato hape. Dan itu pilihan tidak ringan, pemirsahh. Maklum emak zaman now, sok rada pengen exis.

Padahal tulisan saya tuh aslinya biasa banget. Ga ada keren-kerennya kayak yang laen. Tapi tetep aja pede. 😉 Ga ada bahasa orang kekinian. Karena saya mah nyadar, sekolah saya ga tinggi kayak yang laen. Ga bisa juga kudu jadi analisis dadakan. Cukup cerita kekinian dengan bahasa emak-emak yang sederhana. Ya, anggap aja hiburan yang kadang berasa garing.

Kembali lagi ke niat, pengen ga pesbukan malah ini jadi nyetatus.😊udah gitu anehnya, saya kalo bikin setatus di pesbuk mesti panjang kali lebar kali tinggi, ga tau kenapa.

Iteung part 1

Alhamdulillah

Akhirnya Nyi Iteung saba Jakarta. Untuk pertama kalinya nekad nyetir sendiri ke bandara suta. Padahal belum tahu rutenya. Setelah sebelumnya susah tidur karena mikirin gimana caranya bisa sampe ke sana. Agak lebay emang. Karena Iteung termasuk orang yang cepet  panik dan kagetan kalo di jalanan. Denger bunyi klakson kenceng aja bisa ngos ngosan saking terkejutnya. Lihat motor udah kayak semut, ikutan panik bisa maju apa kagak. Apalagi setelah pernah nabrak trotoar yang rasanya hampir merasa mau mati karena mobil hampir terbalik, itu sebab pas lagi belok ada motor nyelonong tiba-tiba motong jalan. Dari situ jadi takut dan trauma bawa mobil lagi. Maap, ye kalo rada lebay. Tersoal emang Iteung asli kalo sudah di jalan banyak paniknya daripada tenangnya. Alhamdulillah, setelah sebelumnya banyak doa minta sama Alloh, paniknya hilang dan muncul berani.

Setelah banyak konsultasi pada ahli jalanan, hususnya emak-emak strong. Akhirnya Iteung jadi semangat lagi. Kata Ummu Rey, kudu dicoba dan dipaksa biar ntar jadi tau. Ntar ge lama-lama bisa jadi supir bis akap. Pesan yang berfaedah, ya. Nih emak-emak beda banget sama Nyi Iteung kalo di jalanan. Katanya ga bisa lihat jalan kosong langsung pindaaah. Kenceng kayak supir angkot ngejar setoran. Haha. Beda banget sama Nyi Iteung yang istiqomah ambil lajur tengah husus kendaraan lambat. Ga berani geser kiri apalagi kanan. Biar anteng asal ga kenceng. Biar lambat asal selamat. Alon-alon sing penting kelakon.

Ini semua demi Akang yang lagi safar dan pulangnya takut kehabisan bis damri. Jadilah Iteung ikutan mikir. Meski tadinya ga pengen jemput karena sebelumnya juga pilih taksi online, tapi akhirnya nyoba berani aja. Bismillaah.

Wah, ternyata Jekardeh malam hari indah sekali. Dengan kecepatan cuma kurang dari 60km per jam, leluasa lihat gedung-gedung tinggi menjulang dengan lampu yang terlihat indah. Nyi Iteung ga berani kenceng, penakut, makanya santei saja. Aslinya sih, karena masih takut mau pindah gigi lima, padahal jalanan malam itu sepi dan sangat lancar. Alhamdulillah. Mungkin berbanding terbalik dengan malem sebelumnya yang biasanya jalanan penuh dan macet karena pas tahun baru.

Gedung-gedung itu terlihat mewah dan indah. Meski bisa jadi menyimpan cerita kelam di dalamnya. Tentang kupu-kupu malam yang sudah naik kelas dari jalanan ke hotel mewah dan kasur empuk. Tentang para homreng yang ternyata banyak beraksi yang juga merasa berkelas. Beda dengan pelacur dan banci jalanan yang berserakan di pinggir jalan. Ini sebenarnya masalah yang sangat serius, penyakit menular dan sampah masyarakat. Merusak generasi muda. Entahlah, saat orang yang seharusnya mengurusinya tidak lagi sanggup atau ga peduli, kerusakan itu makin hari makin jadi. Sementara tugas orangtua mendidik anak-anak semakin berat sesuai dengan tantangan zaman ini. Semoga Alloh mampukan buat semua orangtua untuk mendidiknya.

Akhirnya, setelah keringetan karena masih agak takut, padahal ac mobil nyala. Alhamdulillah Iteung ditemani sama Sarah yang cuek dan santei. Sambil duduk silang kaki dan maenan hape, padahal emaknya dilanda bingung setiap lihat plang nanya mulu. Katanya,
"Udah lah, umi jalan aja terus. Santei aja!"
Udah gitu ya, pake si gugel maps yang sering bikin jengkel. Gimana ga, coba!
Saat plang petunjuk sudah jelas arahnya. Eh, dia malah bilang kudu belok ke kampung bla bla.. Lhaaa.. Kan aneh. Ada dua apa tiga kali tuh dia bunyinya gitu mulu.

"Sarah, itu kenapa sih gugel mapsnya bunyinya nyuruh kita belok mulu?. Kan plangnya jelas"

Sarah jawab,
"Udahlah ga usah didengerin, dia mah emang suka gitu. Ga jelas"😇

Emaknya nyengir aja. Tuh anak emang santei banget. Cocok sama emaknya yang panikan. Imbang.

Bukan apa-apa, pemirsahhh. Saya kadang takut kalo saya nyasar langsung ke hongkong. Kan repot baliknya. Haha.

O iya, bener. Akhirnya modal nekad jadi tau dan ngerti. Emang kadang kudu dicoba dipaksa untuk tau dan faham. Sama kayak kita, kadang terperosok dulu baru kemudian faham hikmahnya atas sesuatu.

Nyi Iteung cuma pengen cerita aja. Sekedar pengetahuan buat yang mungkin belum tau arah bandara, karena Iteung juga akhirnya kudu baca blog orang lain buat nyari tau dan harus tahu di terminal berapa kita masuk, soalnya kalo salah bisa berabe, jauh. Dari tol Bekasi Timur, masuk ambil tol dalam kota lurus terus arah Cawang Grogol kemudian ikutin trus plang arah Sutta, sudah jelas. Sebelum sampe terminalnya, di atas aspal tertulis nama-nama terminal yang dituju. Alhamdulillah, sehat, selamat, lancar.

Nuhun juga buat Gilang atas segala wasiatnya. 😉
ekarosariasarah.blogspot.com

Iteung part 2

Nyi Iteung part 2

Alhamdulillah atas segala hal yang terjadi.

Nah, kali ini Iteung mau cerita perjalanan waktu  ke Jogja dari Solo. Perjalanan pertama berani bawa mobil sendiri ke jalan raya. Mungkin karena beda dengan Bekasi yang lebih macet dan padat kendaraan. Jadi ada perasaan tidak terlalu panik dan takut. Lagi pula daerahnya tidak seperti arah Tasik yang jalananya banyak ciluk ba. Tau jalan ciluk ba, ga?  Kalo kita jalan pas nanjak trus turun kan ada mobil lain di arah berlawanan. Itu namanya jalan ciluuuk baaaa.

Permirsahh,
Mohon maap kalau Iteung cerita perjalanan, ya.  Semoga tidak dipahami sebagai bentuk pameran. Karena Iteung mah sadar sesadar-sadarnya kalo ternyata ada ratusan mobil rentalan, sawah terbentang luas hektaran, tanah abang seluas kaki kuat jalan, rumah real estate yang keren berjejeran. Itu semuanya ternyata bukan punya Iteung. Itu punya orang lain. Haha

Karena bagi Iteung mah, kalo mau merasa memiliki dunia dan seisinya, cukup rajinlah sholat dua rokaat sebelum subuh, yaitu sholat fajar. Termasuk bagi lelaki, cukup sholat subuh jamaah di mesjid, maka hari itu akan dapat jaminan penuh dari Alloh.

Iteung juga inget dengan ucapan seorang teman saat dia jadi mc. Bahwa semua harta yang kita miliki di dunia ini, tidak berarti apa pun jika tidak digunakan untuk kepentingan iqoomatuddin.

##
Sehari sebelumnya Iteung sudah ngobrol sama si Bapak kalo mau ke Jogja. Ada amanat Quran wakaf dari jamaah Bekasi untuk panti asuhan di Jogja. Iteung bilang mau bawa mobil sendiri.  Minta izin supaya diridloi biar perjalanannya mudah dan berkah. Awalnya ga dipercaya, karena si Bapak tau persis kalo Iteung mah mudah panik kalo di jalan dan yang jelas ga tau arah ke sananya.  Tapi akhirnya diizinkan. Malamnya sebelum berangkat mohon sangat sama Alloh, tolong selamatkan dan lancarkan.

Perjalanan diawali dari Masaran trus ke Solo jemput Alfi dan Zulay yang tau jalan.

Dan, ternyata sampai Solo trus nyasar. Harusnya yang dituju itu Ngruki, malah nyasar ke mol Solo Baru. Padahal sehari sebelumnya sudah diajari langsung sama si Bapak rute ke Ngruki. Hehe.. Kelemahan Iteung. Susah ngapalin jalan, sesusah ngelupain mantan. Haha.

Akhirnya dijemput juga sama suaminya Zulay. Beliau pake motor dan Iteung ikutin dibelakangnya. Aneh emang ya.

Perjalanan ke Jogja itu ternyata seru. Iteung bertiga sama Alfi dan Zulai. Mereka berdua mah santei aja. Percaya aja. Padahal mereka belum tau kalo ternyata supirnya baru bisa nyetir dan turun ke jalan raya. Hehe. Tapi Alhamdulillah, kita semua selamat dan sehat sampe tujuan. Bahkan akhirnya reunian sama alumnus Jogja. Amanat quran wakaf tertunaikan. Berkahnya bisa reunian. Pas sampe Solo lagi, barulah Iteung cerita yang sebenarnya. Mereka bilang, ooooooooo ternyata. O nya sengaja dipanjangin ya. Haha

Pulangnya ada kejadian heroik. Saat dua lajur kiri kanan penuh mobil, sementara akhirnya Iteung ambil lajur kanan, ternyata di belakang ada bis rahayu yang terkenal suka kenceng kalo di jalan. Supirnya ngebut dan bunyikan klakson ga berhenti nyuruh Iteung minggir. Akhirnya dengan kekuatan bismillah, karena ga mungkin ambil kiri, soalnya kiri juga ada mobil lain. Iteung tetiba jadi pembalap dadakan. Ikutan ngebut karena dikejar supir bis, sampe akhirnya ketemu lajur kiri yang kosong barulah Iteung minggir.  Terlaaalu. Padahal mah Ya robb, itu detak jantung berdegup lebih kenceng dari biasanya. Bayangkan aja, baru bisa nyetir trus kudu ngebut karena diklaksonin terus sama supir bis.

Alhamdulillah, selamat.
Satu lagi pas ketemu tanjakan, karena masih baru dan belum faham, mobil ga mau maju. Ternyataaa, koplingnya ga Iteung lepas. Hehe.. Tengsin juga. 😉

Tiba lebaran akhirnya kita balik ke Tasik. Sampe Jogja tetiba si Bapak demam tinggi. Dengan bingung dan bismillah, dia nyerah disupirin Iteung. Mau ga mau. Qodarulloh, the power of kefefet itu akhirnya membuat Iteung jadi lancar. Jadi faham saat harus ada di jalanan raya lengkap dengan segala keruwetannya.
#

Ada satu hal yang Iteung selalu ingat. Tentang seorang mujahidah bumi Syam yang mengendarai mobil dengan muatan bom, umurnya masih sangat muda. Kalo ga salah masih 18 tahun, dia sudah melakukan isytisyhad. Maa syaa Alloh, wanita kerren. Apa pun pendapat orang di luar sana, bagi Iteung mah dia tetap mengagumkan. Mengorbankan nyawanya melawan kaum zionis Yahudi. Semoga niatnya tercatat sebagai syahid.

Kalo Iteung mah yang terpenting make fasilitas itu untuk kebaikan yang berpahala, bukan hanya gaya semata. Semoga begitu. Dan hal lain yang bikin pede ke jalan raya adalah karena emang sudah punya sim. Tapi jangan ditanya ya, sim nya resmi atau sim salabim. Itu sudah rahasia umum.

Satu lagi, pas di Jogja sempet salah jalan sampe dua kali karena miskomunikasi. Akhirnya muter jalan sementara di ujung jalan ada yang minta duluan. Tapi Iteung nekad, dan akhirnya habis diomelin ibu-ibu samping si sopirnya. Hehe.. Pengalaman diomelin orang di jalan.

Sekian,
Semoga yang baca tetep sehat dan bahagia. 😉

Ketemuan

Alhamdulillah

Sepagian ini sudah keluar rumah, mau ketemu dengan orang-orang yang semoga kami saling mencintai karena Alloh. Dulu bertemu dalam kebaikan, semoga akan selalu begitu. Bertemu dengan seseorang yang sebelumnya tidak saling kenal, ketemu hanya sekali saja, tapi cinta di atas iman ini membuat kami akrab. Semoga kelak akan saling menjadi syafaat dan bersaksi bahwa kami saling mencintai karena Alloh.

Suami mengizinkan. Meski kebiasaannya yang suka isengin saya kalo mau pergi ga hilang. Motor sudah dikeluarkan sama suami, harusnya kan saya juga keluar. Tapi karena isengnya, motor sudah dikeluarkan trus pintu rumah juga dikunci. Saya nya kan jadi ga bisa keluar. Begitu saya lihat wajahnya, dia nya cuma nyengir senyum-senyum seneng bisa ngerjain saya. Sering begitu. Kalo pas kita mau keluar rumah bareng, tiba-tiba aja pintu rumah dikunci dari luar sambil bilang, 'aku pergi dulu, ya! '. Padahal kita kan mau keluar bareng. Dia nya senyum-senyum lagi aja.

Perjalanan dengan motor bisa mudah nyelip di antara mobil yang lagi ngantri panjang karena macet nunggu kereta lewat. Kalo pas bawa motor, saya berani nyalip. Kenceng pun masih berani, nyalip bis asal penuh perhitungan juga masih berani meskipun ga sering. Cuma satu aja yang tetep saya ga berani nyalip, yaitu nyalip kereta api. Biarlah dia lewat duluan, saya rela nunggu belakangan.

Hari ini kembali naek bis kota. Dan motor saya titipkan di penitipan. Sementara rindu, saya titipkan pada tatapannya saat tadi melepas saya pergi. 😘

Sudah lama sekali sejak ga pernah lagi ke tanah abang, saya absen naek angkutan umum ini. Sebenernya males banget, males sama pengamen nya yang naik turun gantian bisa sampe sepuluh kali sebelum akhirnya bis masuk jalan tol. Belum lagi lagunya ga berubah dari zaman ke zaman, itu-itu aja. Kalo yang sopan sih masing mending, kalo yang kasar, itu yang bikin kesel. Tapi syukurlah, kali ini cuma dua pengamen aja yang tampil. Saya ga respek dengan mereka ini. Saya lebih respek dengan pedagang asongan. Karena mereka bekerja.

Perjalanan, selalu melahirkan pelajaran. Tentang apa pun. Tentang ni'mat sehat dan hidup dalam iman kepada Alloh. Ternyata Alloh masih memberikan waktu buat kita, agar kita punya kesempatan untuk terus beramal sholeh dan minta ampun atas segala salah dan dosa. Tentang kehidupan orang lain yang ternyata lebih sulit dari kita. Betapa banyak yang harus kita syukuri.

Shobaahul khoir,
Awali pagi dengan dzikir dan istighfar