Tampilkan postingan dengan label catatan hati istri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan hati istri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Agustus 2019

Jangan sakiti istri

Catatan hati seorang istri

"Nak, kalau suatu saat nanti kamu menemukam ibu sudah tidak bernyawa lagi, kamu sudah tahu pelakunya siapa".

Pesan seorang ibu kepada anak lelakinya. Saat dirinya sudah ada di ujung rasa. Tidak kuat lagi. Puluhan tahun bukan waktu yang singkat bagi rumah tangga yang dijalaninya. Selama itu pula batinnya tertekan. Suaminya bukan saja pemalas, suka minum, tapi juga suka main tangan. Ringan sekali. Puluhan tahun itu pula hidupnya hanya bergantung pada pemberian keluarga suaminya. Bukan usaha sendiri. Karena memang mereka kaya raya. Hingga akhirnya, si ibu memilih mengakhiri saja rumah tangganya. Daripada harus mati konyol di tangan suaminya. Dia kembali ke kampung halamannya. Hidup seadanya. Bahkan kekurangan. Tapi paling tidak, batin dan raganya bebas. Tidak lagi jadi samsak katena menjadi pelampiasan emosi suaminya.

Kabar perceraiannya membuat saya bahagia. Alhamdulillah. Biarlah berpisah. Daripada harus terus disiksa. Lahir dan batinnya.

Mengingat kisahnya, saya teringat dengan seorang tetangga dekat. Belasan tahun lalu.  Sebut saja Rani. Seorang istri dengan sifatnya yang pendiam.

Saya kadang merasa heran dengannya. Kenapa bisa menikah dengan lelaki itu? Suaminya. Seorang lelaki dengan paras tidak jelek, tapi juga tidak terlalu tampan. Penghasilannya biasa saja. Tidak berlebih. Seorang guru les biasa.

Selama rumahtangga, Rani dan suaminya berjauhan. Pulang hanya beberapa kali dalam seminggu, atau sebulan. Saat itu anaknya baru satu. Lelaki. Masih terhitung balita.

Cerita awal pernikahannya ternyata hanya satu saja alasannya. Menurut suaminya, Rani adalah wanita yang wajahnya sangat mirip dengan ibunya yang sudah meninggal. Itu saja. Hanya itu.

Saya?
Sungguh heran.

Pertemuan mereka pun tidak disengaja. Pada aslinya. Dipertemukan Alloh dalam satu perjalanan yang sama. Lalu terlibat obrolan. Tidak lama dari itu lantas menikah.

Sudah saya tulis. Rani itu sifatnya pendiam. Di mata saya. Entah, pendiam karena masalah, atau memang aslinya begitu. Tapi makin lama makin diam. Bahkan saat ngobrol dengan saya, selalu saja ada air mata yang tidak dapat dia tahan. Meskipun selalu dia akhiri dengan senyuman.

Akhirnya saya tahu. Dia sakit. Hati dan raganya. Bahkan dia jujur, kalau dia sering tidak bisa mendengar. Alias budeg, kata dia. Sambil tersenyum getir. Sungguh sangat dipaksakan. Kepala belakangnya sering terasa sakit luar biasa. Bekas pukulan tangan suaminya.

Rani istri yang bermasalah?
Tidak. Saya bersaksi bahwa dia istri yang baik. Hanya saja sejak telinganya tidak mendengar dengan jelas, lalu perintah atau permintaan suaminya sering dia acuhkan. Bukan tidak taat, tapi tidak terdengar. Setelah itu, suaminya akan marah besar. Meski awalnya hanya masalah kecil. Sangat emosional sekali. Itulah sifat suaminya. Salah sedikit, maka mulutnya akan bicara kasar, dan tangannya akan melayang. Memukul Rani.

Saya?
Tak bisa berbuat banyak untuk menolongnya. Karena Rani selalu saja menghindar ketika dia "sedang" disiksa suaminya. Dia hanya bisa menangis dalam diam. Lalu berusaha sabar dan menerimanya. Baginya, suaminya adalah tempat baktinya. Meskipun wajahnya tak bisa berbohong saat bertemu, karena bekas siksaan itu ada di sana. Kasihan.

Sampai satu hari, Rani dan suaminya pindah ke Jakarta. Rumahnya dijual. Karena usaha suaminya mengalami kemunduran. Ekonominya jatuh. Sampai akhirnya kabar terakhir saya terima. Rani menyerah. Memilih bercerai. Setelah anaknya yang dulu masih balita itu meninggal.

Saya bahagia mendengarnya. Biarlah dia lepas dari suaminya yang bagi saya tak lebih dari seorang predator. Karena bicaranya yang kasar dan tangannya yang selalu melayang. Suami yang kasar dan suka main tangan itu membahayakan. Tidak pantas disabari terlalu lama.

Maka, saat seorang teman mengadukan kisah tetangganya yang lebih memilih berpisah sementara dengan suaminya karena takut kena pukul lagi, saya sungguh memakluminya. Dia menceritakannya sambil menangis di pelukan teman saya. Mengeluhkan kepalanya yang masih terasa sakit sisa pukulan. Padahal sudah berlalu lebih dari dua bulan. Mengerikan.

Bagi saya, suami adalah seseorang yang jelas sekali punya kekurangan. Entah dari sisi yang mana. Tapi kalau sudah memukul istri dan itu jadi kebiasaan atau tabiat, maka menghindarinya akan jauh lebih baik.

Islam itu adil dan mudah. Menikah dan bercerai sudah diatur. Menikah adalah berkah. Tapi bercerai bukan berarti musibah.

Dan saya terkadang salut pada banyak istri yang masih sanggup bertahan dengan tabiat suami yang suka memukul dan juga kasar. Semoga Alloh ringankan bebannya. Alloh perbaiki rumah tangganya. Tentu saja dengan tambahan syarat. Perbaiki terus hubungan dengan Alloh, semoga Alloh pun memperbaiki hidup kita, rumahtangga kita.

Jangan lupakan satu hal, sebutkan nama suami dalam doa-doa kita. Mintakan kepada Alloh agar dilembutkan hatinya. Dijadikan hatinya penuh dengan kasih sayang kepada keluarga, hususnya kepada istri. Jikapun Alloh belum mengabulkannya, Islam memberikan pilihan. Bertahan, atau berpisah.

Eka Rosaria

Rabu, 30 Januari 2019

Luka hati

Luka hati seorang istri memang terasa sulit diobati. Butuh waktu panjang hingga akhirnya luka itu akan menutup perlahan seiring limpahan cinta Alloh lewat suaminya. Lewat pengertian suaminya yang dengan tanpa gengsi akan meminta maaf jika memang bersalah. Lewat kehangatan sikap suaminya dalam tutur lembut katanya dan senyumnya yang menunjukkan cinta dan penerimaan atas apa pun yang terjadi pada istrinya.

Kalian harus tahu, bahwa jangan sampai luka hatinya menjadi racun yang perlahan menggerogoti tubuhnya hingga satu waktu kalian akan faham bahwa tubuhnya tak lagi bisa menahannya. Dia jatuh sakit dalam diamnya.

Bahagia seorang istri terkadang sederhana sekali. Melihat suaminya yang tetap mampu bersabar dalam menghadapi sikap istri dengan tetap menyapa dan tidak mendiamkannya beberapa lama saat istri berbuat salah. Apatah lagi jika tidak membentak dan berkata kasar saat marah.

Kalian tahu, didiamkan berarti dianggap tidak ada. Dan itu sungguh lebih sakit daripada kulit yang teriris pisau silet. Rumah menjadi ibarat kuburan jika saat marah harus mendiamkan berlama-lama.  Dibentak berarti tidak dihargai. Dan tidak semua hati istri mampu menerima perlakuan seperti itu. Tidak semua istri bisa tegar. Meski hanya diam dan tidak melawan, hatinya tetaplah sakit.

Entahlah, bagiku pun sama sulitnya memahami jika seorang suami betah berlama-lama mendiamkan istrinya saat marah. Barangkali sama sulitnya bagi seorang suami yang memahami istrinya yang seringkali sulit dan tidak mampu berterus terang atas perasaannya.

Sebagian istri ada yang mampu mengabaikan rasa sakit hatinya demi tetap utuh dan juga anak-anak yang tak boleh kehilangan hangatnya kasih sayang ibu dan bapak. Tapi sebagian lagi melampiaskannya pada anak-anaknya. Lebih parah lagi jika pelampiannya itu pada hal yang negatif. Sungguh, luka itu akan menjadi racun.

👉 " Alhamdulillah, dalam rasa sakit yang aku rasakan karena perlakuan kasar suamiku meski dalam keadaan tidak marah pun itu tetaplah terselip rasa syukur. Aku mengabarinya lewat pesan singkat jika aku membatalkan janji bertemu dengannya. Aku tak ingin melanjutkan hubungan yang baru saja terasa hangat dalam dinginnya hubungan dengan suamiku. Saat hatiku yang tak sanggup lagi menahan sakit, seorang lelaki yang di mataku lebih berilmu dan biasa menerima keluhan soal rumahtangga itu menjadi seseorang yang membuat hatiku seperti mendapatkan kebahagiaan. Berawal dari curhatku tentang kondisi rumahtangga, kemudian mengalirlah banyak nasehat darinya. Memberiku semangat untuk tetap tegar dan sabar. Dari sebanyak nasehat itu, ada bahagia yang terasa lain.  Komunikasi itu pun hanya aku lakukan lewat pesan singkat. Aku belum pernah bertemu dengannya. Hingga akhirnya kami membuat janji bertemu di satu tempat. Aku menyanggupinya setelah kepulanganku dari sekolah tempatku mengajar. Entah, kesibukanku yang sekian banyak pun belum mampu membuatku mengabaikan luka hati itu. Sampai di detik pertemuan itu, hatiku tetiba berubah. Kesadaran itu datang. Aku tahu ini salah. Tidak seharusnya melampiaskan sakit itu pada satu hal yang akan jauh lebih buruk lagi akibatnya. Aku faham akan dosanya. Alhamdulillah. Saat itulah rasa syukur membuncah. Alloh masih menyayangiku hingga langkah ini belum terlalu jauh, baru di awal saja. Aku mengetik pesan membatalkan janji. Lelaki itu ternyata membalasnya dengan marah dan cukup kasar, kecewa dengan pembatalan yang begitu mendadak. Ah, biarlah. Pada akhirnya sesuatu yang tadinya aku anggap baik dan bisa membantuku menyelesaikan masalah rumahtangga itu ternyata pun sama saja. Dan Alloh menunjukkan bahwa lelaki itu pun tak mampu meredam emosinya. Alhamdulillah, Alloh menyelamatkanku. Aku pulang sambil terus berusaha mengatur hati agar permasalahan rumahtanggaku menjadi ladang amal. Sabar itu lebih baik. Aku akan berusaha menganggap kekasaran suamiku selama pernikahan yang puluhan tahun itu saat bicara biasa dan marahnya itu satu ujian yang Alloh berikan dan aku akan mampu melewatinya. Aku akan sabar jika keinginan hati yang sangat sederhana saja tidak mau dia lakukan. Aku sering menangis sendiri saat melihat suami membonceng istrinya. Mereka terlihat begitu bajagia. Aku? Suamiku tidak pernah mau memboncengku. Maka saat satu hari suamiku tergerak mau memboncengku, maa syaa Alloh, rasanya begitu bahagia. Padahal, kendaraan itu ada. Makanya selama ini aku lebih memilih angkutan umum karena suamiku tak pernah mau mengantarkan.  Dan aku yakin, Alloh lebih tahu kenapa lelaki itu menjadi jodohku di dunia."

Aku menarik nafas panjang. Kisahnya pun membuatku memahami banyak hal. Tentang sabar dan menahan diri agar tak jatuh pada dosa yang lebih besar. Ikatan pernikahan tetaplah wajib dihormati, tak boleh dilepas atau diputus karena satu maksiat yang awalnya hanya pelampian saja. Justru seharusnya membuat kita menyadari bahwa setiap rumahtangga sudah pasti ada masalahnya sendiri. Alloh tahu kepada siapa masalah itu datang. Itu artinya, kita akan mampu menghadapi dan melewatinya. Hanya butuh ilmu sabar saja.

Aku hanya ingin bilang pada para suami, jika marah itu ada, bicaralah, jangan hanya diam berlama-lama. Atau jangan pula memberikan bentakan yang melukai hati. Karena bahagianya sebuah rumah, adalah jika istri bahagia di dalamnya.

Eka Rosaria

Rabu, 20 Juni 2018

Wanita

#Catatanhatiistri

Jam 1 malam, terbangun. Entah karena apa. Lalu saya nyalakan hape. Ada chat wa masuk.

"Mi, barusan aku dipukul lagi. Rambut ditarik, ditendang. Aku sakit, Mi.."

Ngantuk seketika hilang, ganti dengan kaget. Untuk ke sekian kalinya dia mengeluhkan. Terkadang bosan juga ngasih saran. Bukan tanpa alasan. Ngeri kalau sudah mendengar ceritanya. Bahkan satu giginya harus copot karena disiksa saat meminta "sesuatu" darinya, padahal saat itu bulan di mana siangnya haram melakukannya.

Satu lagi,

"Mi, teman saya curhat mulu soalnya suaminya. Suka nendang, mukul, kasar, tidak mau sholat jamaah ke masjid, sama anak-anak kasar. Sudah saya sarankan cerai saja kalau memang sudah tidak kuat. Tapi katanya nanti saja, mau lihat perubahan dulu. Siapa tahu mau berubah. Padahal semua itu terjadi bertahun-tahun".

Dua wanita dengan masalah hampir sama. Dua-duanya tetap memilih bertahan. Entahlah, saya sendiri terkadang bingung melihatnya.

Wanita itu makhluq mengagumkan sekaligus membingungkan. Begitu yang saya lihat dan rasakan.

Betapa tidak, sekian banyak wanita dengan masalah besar yang menimpanya, tetap teguh mempertahankan sebuah hubungan. Terutama rumah tangga.

Mengagumkan karena memilih tetap bertahan meski punya suami tempramental, main pukul main tendang kalau sedang marah, belum lagi nada bicara yang suka membentak. Rela merasakan kepedihan dan penderitaan itu bertahun-tahun. Kadang tanpa mengeluh. Nrimo.

Membingungkan karena memilih tetap bertahan tidak bercerai meski pun pilihan itu jelas sekali boleh diambil. Di mana letak bahagianya seorang istri jika punya suami yang suka mukul, nendang, bentak jika emosi. Bahkan sedang tidak emosi pun nadanya tetap kasar.

Itulah hebatnya wanita. Dibalik kelemahannya, tersimpan kekuatan besar untuk bertahan dalam situasi yang pelik. Memilih untuk merelakan bahagianya demi anak-anak. Itulah yang seringkali terjadi. Anak-anak adalah hidupnya.

Saat ada istri yang curhat karena suaminya yang suka mukul, nendang, nuduh dan perlakuan tidak manusiawi lainnya, saya hanya bertanya,

"kuatkah dengan kondisi itu?"

Jawabannya tetap,

"kasian anak-anak"

Meski seringkali saya sarankan untuk memilih bercerai setelah sebelumnya sholat istikhoroh agar pilihannya tepat, tetap memilih bertahan. Ada juga yang begitu khawatir dengan nafkahnya nanti jika memilih bercerai. Ini wajar. 

Alangkah hebatnya wanita..
Para suami, sayangilah wanitamu!
Karena sakitnya dan beratnya saat hamil dan melahirkan anak-anakmu tak akan pernah sebanding dengan sakitnya disunat yang hanya sekali seumur hidup.

Wanita, bahagiakan hidupmu!
Jika khawatir menguasai hati, ingatlah! Ada Alloh tempat meminta dan bersandar. Tapi jika tetap memilih bertahan, semoga tetap bersabar.

Alangkah mulianya teladan kita Muhammad Rosululloh shollalloohu 'alaihi wa sallam dalam memperlakukan para istrinya. Beliau adalah suami yang paling baik dalam memuliakan mereka, ummahatul mukminin. Dalam marahnya pun, beliau masih tetap bersikap lemah lembut. Lalu, jika para suami tidak mencontoh beliau dalam memperlakukan istri, siapa lagi yang mau dicontoh?

Para istri, mari kita belajar menjadi tempat paling "tenang" bagi suami, sehingga tercipta hubungan yang harmonis. Setiap rumahtangga pasti ada ujiannya. Bercerai bukan pilihan buruk jika ke depannya akan jauh lebih baik. Adukanlah setiap masalah kepada Alloh. Karena Alloh lah yang memberi kita ujian, kepada NYA lah kita juga bersandar.

Eka Rosaria
Bekasi, juni 2018

Minggu, 11 Februari 2018

Pelakor

Pelakor

Ga di fb, ga di ig, ada video yang lagi hits. Istri sah melabrak pelakor. Ditambah video nyanyian wanita yang katanya pelakor itu sekarang makin ganas dan tersebar di mana-mana. Pelakor itu cuma wanita yang kekurangan dana. Pake barang mahal hasil harga diri yang dijual, begitu katanya.

Saya wanita, dan saya jujur dengan perasaan saya. Bahwa saat melihat istri sah bisa melabrak bahkan sampai bisa jambak dan menghajar si pelakor, saya ikutan seneng lihatnya. Biarkan jadi pelajaran. Bahwa tidak setiap wanita yang tertindas itu hanya bisa pasrah dan diam.

Tolong bedakan dengan istri ke dua yang dipoligami secara sah, ya!  Karena pernah ada yang marah dengan istilah pelakor, disangkanya itu melabeli wanita yang dipoligami.

Bukan!
Ini tentang wanita yang tak tahu diri. Yang nafsu melihat suami orang kemudian berusaha merebut sampai memilikinya. Menggunakan segala cara. Dari halus sampai kasar.  Dan lelaki incarannya, bukan lelaki biasa yang tak punya harta. Karena wanita pelakor tak akan mau dengan lelaki kere. Bahkan yang lebih kejam lagi, si pelakor bernafsu merebut anak dari istri sah si lelaki.

Saya ga pernah merasa kasian lihat pelakor disiksa, dipermalukan. Biarkan dia merasakan. Karena sakitnya seorang istri sah itu lebih dari yang dibayangkan.

Tapi apa yang terjadi adalah taqdir. Suami yang akhirnya lebih memilih wanita pelakor daripada istrinya, bisa jadi, memang lelaki itu sudah tak pantas lagi bersanding dengan istri sahnya. Relakan saja, jika mau. Karena suami yang sedang dimabuk cinta pelakor, biasanya sulit bisa sadar. Entah nanti kalau hartanya sudah habis dan badannya sudah sakit.

Apa yang sudah terjadi, itulah yang terbaik dari Alloh. Kita manusia yang tak pernah tahu maksud dari setiap ujian yang Alloh berikan. Semoga saat hati ikhlas melepaskan, akan datang seseorang yang Alloh mampukan bisa membahagiakan.

Dan sebaik-baik tindakan adalah menerima dengan baik dan ikhlas setiap taqdir yang diberikan. Meskipun, susahhh, jendralll !!!!

Rabu, 10 Januari 2018

Andai

Jika Anda menikahinya..

Saya pernah bertanya pada seorang janda yang akhirnya menikah lagi. Alhamdulillaah Alloh memberinya jodoh kembali. Pertanyaannya tentang sifat dan karakter suami pertama dan kedua.

Suami pertama. Seorang lelaki berilmu dan punya sifat lemah lembut tutur katanya. Tidak pernah marah selama rumahtangga kurang lebih 8 tahunan. Senang ngajak ngobrol istrinya. Jika istrinya melakukan kekeliruan, suaminya mengingatkan dengan nasehat dan senyuman. Tidak pernah melukai perasaannya. Tidak pernah membentak dan meninggikan suaranya kepada istri. Dekat dan hangat dengan anak-anak.

Suami keduanya. Seorang lelaki berilmu dan punya sifat pendiam. Lebih memilih anteng dengan tugas-tugas pribadinya. Jarang ngobrol dan tidak dekat dengan anak-anak, hanya sekedarnya saja. Jika istri berbuat keliru, maka akan didiamkan sampai lama. Tidak mau menjelaskan salahnya di mana. Lebih memilih pergi daripada menyelesaikan masalahnya.

Alhamdulillah keduanya lelaki yang baik. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Hal yang tetap harus diterima dan disyukuri. Karena menikah dengan siapa pun, pasti akan bertemu yang namanya masalah, kekurangan dan hal yang kurang menyenangkan lainnya.

Tapi satu hal yang saya garis bawahi. Bahwa menikahi janda barangkali berbeda dengan gadis. Itu pun jika sang lelaki mau totalitas dalam membahagiakan istrinya, tentunya sesuai dengan kemampuannya.

Di antaranya adalah mencari tahu sosok suaminya terdahulu. Sifatnya dan cara memperlakukan istrinya. Memang tidak mutlak, artinya jika masing-masing memang siap dan ikhlas, maka tidak ada masalah. Maka saat si istri yang janda kemudian dinikahinya, maka alangkah bagus jika suami memberikan komitmen sejak awal bahwa dia dan suaminya dulu pastinya adalah sosok yang berbeda dalam banyak hal. Maka lapangkan dada dan ikhlaskan hati untuk menerima dan kemudian tidak lantas membandingkannya.

Maka saat saya tanya bagaimana perasaannya dan menyikapinya,

"Alhamdulillah, 'alaa kulli haal. Semuanya khoir. Sudah taqdir jodoh saya. Perbedaan sifat suami dulu dan sekarang memang sangat jauh. Dulu saya tak pernah risau karena suami tak pernah marah. Kalau sekarang saya harus banyak bersabar. In syaa Alloh semuanya baik.  Dan itulah taqdir hidup saya. Maka saya harus menerimanya."

Ini hanya sekedar berbagi, bukan mengatur lelaki. Karena bahagia dan membahagiakan pun butuh cara. Barangkali saat menelisik sifat suami sebelumnya dan mengambil sifat baiknya adalah cara yang baik, menurut saya itu bagus. Semoga sakinah mawaddah rohmah akan diraih.

Eka Rosaria

Kamis, 04 Januari 2018

Catatan 7

Jika Anda menikahinya..

Saya pernah bertanya pada seorang janda yang akhirnya menikah lagi. Alhamdulillaah Alloh memberinya jodoh kembali. Pertanyaannya tentang sifat dan karakter suami pertama dan kedua.

Suami pertama. Seorang lelaki berilmu dan punya sifat lemah lembut tutur katanya. Tidak pernah marah selama rumahtangga kurang lebih 8 tahunan. Senang ngajak ngobrol istrinya. Jika istrinya melakukan kekeliruan, suaminya mengingatkan dengan nasehat dan senyuman. Tidak pernah melukai perasaannya. Tidak pernah membentak dan meninggikan suaranya kepada istri. Dekat dan hangat dengan anak-anak.

Suami keduanya. Seorang lelaki berilmu dan punya sifat pendiam. Lebih memilih anteng dengan tugas-tugas pribadinya. Jarang ngobrol dan tidak dekat dengan anak-anak, hanya sekedarnya saja. Jika istri berbuat keliru, maka akan didiamkan sampai lama. Tidak mau menjelaskan salahnya di mana. Lebih memilih pergi daripada menyelesaikan masalahnya.

Alhamdulillah keduanya lelaki yang baik. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Hal yang tetap harus diterima dan disyukuri. Karena menikah dengan siapa pun, pasti akan bertemu yang namanya masalah, kekurangan dan hal yang kurang menyenangkan lainnya.

Tapi satu hal yang saya garis bawahi. Bahwa menikahi janda barangkali berbeda dengan gadis. Itu pun jika sang lelaki mau totalitas dalam membahagiakan istrinya, tentunya sesuai dengan kemampuannya.

Di antaranya adalah mencari tahu sosok suaminya terdahulu. Sifatnya dan cara memperlakukan istrinya. Memang tidak mutlak, artinya jika masing-masing memang siap dan ikhlas, maka tidak ada masalah. Maka saat si istri yang janda kemudian dinikahinya, maka alangkah bagus jika suami memberikan komitmen sejak awal bahwa dia dan suaminya dulu pastinya adalah sosok yang berbeda dalam banyak hal. Maka lapangkan dada dan ikhlaskan hati untuk menerima dan kemudian tidak lantas membandingkannya.

Maka saat saya tanya bagaimana perasaannya dan menyikapinya,

"Alhamdulillah, 'alaa kulli haal. Semuanya khoir. Sudah taqdir jodoh saya. Perbedaan sifat suami dulu dan sekarang memang sangat jauh. Dulu saya tak pernah risau karena suami tak pernah marah. Kalau sekarang saya harus banyak bersabar. In syaa Alloh semuanya baik.  Dan itulah taqdir hidup saya. Maka saya harus menerimanya."

Ini hanya sekedar berbagi, bukan mengatur lelaki. Karena bahagia dan membahagiakan pun butuh cara. Barangkali saat menelisik sifat suami sebelumnya dan mengambil sifat baiknya adalah cara yang baik, menurut saya itu bagus. Semoga sakinah mawaddah rohmah akan diraih.

Eka Rosaria

Catatan 1

#catatan_hati_istri1

Habis pelakor muncullah walingmi alias wanita maling suami. Kedua istilah yang sedang hits. Kalimat yang sebetulnya kurang enak didengar dan pasti konotasinya negatif. Saya sebagai makhluq sensitif kadang pun ikut geregetan.

Tapi begitulah ujian hidup. Karena hati itu milik Alloh. Maka kita hanya bisa meminta kepada Alloh agar hati kita dijaga, juga hati pasangan kita. Karena kalau tidak, seberapa pun usaha kita, jika memang harus lepas, maka bisa apa?

Kita hanya bisa usaha menutup segala celah munculnya orang ketiga yang punya potensi merusak hubungan kita dengan suami. Dan kita lah sebagai istri pasti lebih tahu bagaimana caranya. Perusak ini tidak boleh dibiarkan.

Dimulai dari diri kita yang harus  memperhatikan kewajiban kita atas suami. Menunaikan hak suami dengan baik dan maksimal. Selanjutnya tawakkal kepada Alloh.

Maka, saat beberapa waktu lalu ada seorang ibu yang minta no hape suami saya, katanya ada temannya mau konsultasi soal rumahtangganya. Maka saya sampaikan,

"suami saya ga punya hape pribadi. Semua hape saya yang pegang. Untuk masalah rumahtangga, kalau mau, silahkan ngobrol dengan saya. Karena suami saya tidak melayani konsultasi rumahtangga kecuali suami istri datang menghadap. Tidak hanya sendiri-sendiri karena nantinya berimbas tidak adil dalam menilai permasalahan."

Setelah itu tidak ada kabar lagi. Gpp. Tapi pada akhirnya ketika ada ibu yang langsung bicara dengan suami saya minta waktu konsultasi, maka suami saya akan langsung menyarankan agar ngobrol langsung dengan saya, bukan dengan suami. Sampai akhirnya kuping saya panas karena ditelpon hampir dua jam lebih. Tapi ga masalah. Ini adalah cara memutus rantai celah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Buat para ibu, semangat !! Berusaha semaksimal kita, selanjutnya serahkan kepada yang memiliki dan menguasai hati kita.

Eka Rosaria

Catatan 2

#catatan_hati_istri2

Satu hari pernah ketemu temen, dan ngobrollah kita. Dia mengeluhkan seorang temannya yang suka nelpon ustadznya di jam yang tidak biasanya. Di atas jam 9 atau jam 10 malam. Sudah diingatkan. Entah berubah atau tidak. Yang jelas temannya saja merasa risih, apalagi istri yang ditelpon.

Tentang nelpon.
Seharusnya kita tahu bahwa tidak setiap orang yang kita telpon itu waktunya banyak. Maka alangkah baiknya sebelum nelpon sms dulu. Supaya tahu siap dan tidaknya. Karena terkadang ibu-ibu yang curhat itu butuh waktu tidak sebentar.

Tentang waktu.
Cobalah kita berfikir, bahwa setiap orang punya waktu istirahat yang harus kita hargai. Apalagi nelpon malam-malam. Di atas waktu isya, biarkan orang yang mau kita telpon menikmati waktu istirahatnya. Dan rasanya kurang beradab jika kita nelpon larut malam.

Tentang isinya.
Jika kita punya masalah, carilah tempat yang tepat. Sesama wanita. Jangan kepada lelaki lain. Meskipun itu seorang ustadz. Apalagi curhat masalah rumahtangga. Terkecuali bertanya tentang hukum dan hal lain yang sifatnya umum.

Ustadz juga manusia. Berapa banyak akhirnya terjadi kasus dari awalnya nelpon curhat masalah rumahtangga, kemudian syaithon ikut urun, dan terjadilah hal yang tidak seharusnya. Hargailah keluarganya sebagaimana keluarga kita ingin dihargai.

Risihlah saat kita, wanita, istri, harus curhat masalah rumahtangga kepada lelaki lain. Karena peluang syetan akan lebih besar dan akhirnya menjadi dosa.

Saya pernah bertanya kepada teman yang seorang istri ustadz. Dia mengeluhkan hal sama, betapa banyak para ibu yang tidak tahu waktu dan tempat ketika menelpon, curhat dan hal yang sebetulnya tidak perlu.

Curhat kepada manusia tidak selalu berakhir lega. Bisa jadi memantik masalah baru. Maka solusi paling jitu adalah, saat kita punya masalah rumahtangga, bicaralah kepada orangtua yang adil. Hakim yang adil. Dan pastinya, curhat kepada Alloh itu lebih utama.

Menjaga dari curhat masalah rumahtangga kita adalah harga diri kita. Jika kita sembarangan menyampaikannya, maka jatuhlah harga diri kita.

Eka Rosaria

Catatan 3

#catatan_hati_istri3

Seorang murid saya dulu akhirnya bercerita. Setelah saya lihat status medsosnya seperti sedang emosi tingkat tinggi.

Saya bertanya, kenapa?
Mengalirlah dia cerita. Tentang kakak iparnya (kakak ipar suaminya tepatnya)   yang rajin kirim sms ke hape suaminya. Menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Padahal sebetulnya curhat itu tidak terlalu perlu karena kakak iparnya punya suami. Kenapa tidak curhat dengan suaminya?  Kan begitu.

Setelah dia tanyakan dan ditegur baik-baik, si ipar sedikit beralasan. Sampai akhirnya dia marah tidak terima kalau suaminya dijadikan tempat curhat atau sekedar mencari solusi permasalahannya.

Alhamdulillah suami murid saya dulu itu tidak terlalu merespon iparnya. Dan dia terbuka dengan istrinya.

Begitu seharusnya. Suami terbuka kepada istri jika ada masalah yang sekiranya akan menimbulkan fitnah jika ditutupi. Karena suaminya sendiri yang menyerahkan hape nya kepada istrinya, Alhamdulillah akhirnya masalah berlalu.

Dunia curhatnya wanita memang selalu panjang urusannya jika salah menempatkan. Ditambah bisikan syetan yang tidak akan tinggal diam jika rumahtangga anak Adam adem ayem. Cita-citanya memang merusak hubungan suami istri. Maka carilah tempat curhat yang tidak akan membuat kita jatuh harga diri. Dan kepada Alloh lah sebaik-baik tempat mengadu.

Eka Rosaria

Catatan 4

#catatan_hati_istri4

Ada yang bertanya,

"Umi, boleh ga sih kalau kita menaruh simpati kepada lelaki lain. Contohnya kayak sekarang kan banyak ustadz-ustadz muda yang pinter-pinter tuh. Bertebaran di medsos dengan potonya yang menarik. Mereka ilmunya banyak, masih muda. Pokoknya rasanya seneng lihat yang seperti itu. Wajar ga, sih? "

Kurang lebih begitu. Seorang istri yang tertarik hati atau simpati melihat para ustadz muda dengan segudang ilmunya. Rasa simpati dan kagum yang kalau dibiarkan akan menjadi bola liar tak terkendali. Karena memang menjaga perasaan suka tidak pada tempatnya itu tidak gampang. Terkadang harus kesandung dulu baru akhirnya sadar. 

Saya tidak berani menyalahkan perasaannya. Bagaimana pun itu hak dia. Tapi saya hanya memberikan pandangan saja, agar rasa simpatinya tidak berubah menjadi rasa aneh dan berlebihan.

Menyukai itu hal wajar jika sesuai. Senang dengan ustadz yang ilmunya banyak, harus. Lalu kita mengambil ilmunya dan mengamalkannya. Itu hal bagus. Tapi kalau lebih dari itu, maka kita harus waspada.

Syetan itu tidak pernah tinggal diam menggoda manusia. Termasuk rasa hati saat melihat keindahan lain di depan matanya, kepandaian yang membuatnya kagum. Tapi ingat, hanya boleh sewajarnya saja.

Kita harus ingat kalau posisi kita adalah istri dari seorang suami. Bagaimana pun suami kita, itu lah taqdir kita. Jadi jangan berharap lelaki lain yang kelihatannya lebih pintar dan lebih menarik.

Lelaki pintar yang kita lihat, sudah pasti punya kekurangan yang belum tentu saat berjodoh dengan kita, kita akan sanggup menerima kekurangannya.

Maka saat kita merasa simpati itu datang, istighfarlah. Lalu lihat wajah suami kita. Dialah yang hidup dengan kita dan sudah terbukti mau menerima kekurangan kita. Ingat-ingat usahanya dalam menafkahi kita, capeknya, lelahnya, sakitnya. Juga lihat wajah anak-anak kita. Betapa malunya kita jika mengikuti rasa yang tidak seharusnya. Mereka, anak-anak butuh kita, ibunya.

Lelaki lain bisa jadi terlihat istimewa dan mengagumkan. Tapi suami kita pastinya jauh lebih dari itu. Karena saat ikrar nikah terucap, surga kita ada pada ridlonya. Apalagi yang akan kita kejar selain surga?

Eka Rosaria

Catatan 5

#catatan_hati_istri5

Dulu, kami menyebutnya bencong. Lelaki yang bertingkah seperti perempuan. Padahal parasnya ganteng, hidung mancung. Tapi ternyata dia tidak suka dengan perempuan. Gaya bicaranya juga kemayu.

Jadi ingat dengan teman masa kecil. Maen bareng, ngebolang bareng, kami bersahabat dengan teman lainnya dan dekat layaknya anak kecil zaman dulu.  Dia menyenangkan, kadang pandai merayu kalau ada mau. Kalau maen masak-masakan, pinteran dia dari kita. Anaknya luwes kalau urusan dapur. Bahkan dewasanya pernah jadi koki kebanggaan majikannya, masakannya enak. Pinter ngurus rumah dan ngurus hal yang sebenernya lebih cocok jadi urusan perempuan.

Kami sering ngobrol. Kadang iseng suka nanya, kenapa kok dia bisa luwes kalau ngerjakan pekerjaan dapur dan urusan perempuan. Dia cerita,

Ibunya adalah istri ke dua yang seringnya tidak dinafkahi suaminya, bapaknya. Datang ke rumah kalau lagi punya butuh saja. Galak. Ibunya diperlakukan tidak adil. Tidak diperhatikan kebutuhan lahirnya. Padahal darinya punya anak banyak.

Dalam hati kecilnya, teman masa kecilku marah sekali dengan bapaknya. Tapi jarang berani membantah, apalagi melawannya. Seringnya hanya menangis, sedih dengan keadaan ibunya dan adik-adiknya, sementata dia anak pertama. Hatinya sakit dan kecewa. Dia tidak tega melihat ibunya. Sampai akhirnya dialah yang mengurus ibu dan adik-adiknya. Bahkan sering juga dia yang kerja bantu orang nyuci atau nyetrika dan masak.

Semua pekerjaan rumah dia kerjakan. Nyuci baju, nyetrika, masak dan pekerjaan lainnya. Dia jadi terbiasa dengan hal yang berbau perempuan, lupa dengan kodratnya sebagai lelaki. Sementara ibunya pun mencari pekerjaan lain demi menghidupi keluarganya.

Teman masa kecilku trauma melihat sikap bapaknya. Sampai tidak terasa, dia berubah menjadi seorang lelaki lemah gemulai. Dan sama sekali tidak punya hasrat suka dengan perempuan. Hasratnya justru timbul kalau melihat lelaki ganteng.

Trauma, kecewa, melahirkan rasa lain di hatinya. Rasa sayangnya yang besar kepada ibunya, menjadikan dia takut dengan perempuan.

Eka Rosaria