Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juni 2018

Lebaran kali ini

Ada yang beda di lebaran kali ini. Sejak menikah 20 tahun lalu, hanya sekali saja saya  merayakan lebaran di kampung halaman, di Tasikmalaya. Selainnya, saya menikmatinya di tempat perantauan, atau berhitung belasan tahun ini saya lalui lebaran di Masaran, Sragen, Jawa Tengah.

Tapi kali ini saya melewatinya di sebuah kota di provinsi Sulawesi Tengah, kota Poso. Sebuah kota dengan alam yang indah. Sungguh indah. Lautan luas terbentang dengan pantai yang masih bersih dan hasil lautnya yang melimpah. Juga kebun-kebun coklat yang banyak dijumpai serta hutan alami dan sawah yang luas terbentang indah dan asri.

Kota yang masih tenang tanpa kemacetan. Masih lengang tanpa kepadatan seperti di ibu kota. Alhamdulillah, nyaman berada di sini.

Hanya malam ini saja kota terlihat macet karena ada malam takbiran keliling. Sungguh meriah. Setiap orang menikmati kemacetan ini dengan sukacita karena suara takbir saling bersahutan dari mobil-mobil yang melintas.

Takbir keliling kali ini resmi dibuka dan diizinkan oleh Bapak Bupati Poso. Bahkan kabarnya akan diberikan hadiah untuk bagi rombongan yang mengikutinya.

Pasukan dari kepolisian dan TNI dengan sigap dan ramah terlihat menjaga arus lalu lintas supaya lebih tertib dan aman. Meskipun ada saja pengendara motor yang sibuk dengan suara knalpotnya yang memekakkan telinga. Jangan coba-coba ngebut di kota yang jalannya masih sangat lengang ini, karena di sisi jalan bakalan terlihat ada spanduk dengan tulisan,

DILARANG NGEBUT !! KARENA VALENTINO ROSII PERNAH JATUH DI SINI.
😳😇😆

ini beneran, lho!
Makanya jangan coba-coba!  😆

Kota Poso dengan segala daya pikatnya yang memesona, menjadi tempat bagi saya tahun ini merayakan lebaran. Saya tak pernah lagi mengingat harus lebaran di kampung halaman. Bukan tak ingin. Tapi tugas mendampingi suami adalah satu hal yang saya nikmati. Biarlah lebaran di kota mana saja, terpenting adalah, semuanya baik-baik saja.

Sebagaimana pesan bapak saya, Alloohu yarham,

"Pergilah kemana saja yang jauh, jangan tinggal di sini. Merantaulah! Bapak ikhlas. Bahkan seandainya Bapak ditaqdirkan meninggal dan tidak sempat bertemu, Bapak akan ikhlas. Yang penting, di mana saja berada, tetaplah di jalan dakwah!"

Ah, sedih terkadang bukan karena tak ada baju baru atau makan khas lebaran. Tapi sedih adalah saat mengingat bahwa rindu ini hanya mampu mengenang kebersaman dengan seseorang yang kita cintai. Bapak sudah tak ada. Tapi ingatan tentangnya selalu ada.

Taqobbalalloohu minnaa wa minkum.

Eka Rosaria
Bumi Poso, juni 2018

Jumat, 11 Mei 2018

Iteung part 6

Iteung ke Jakarta (lagi) 😅

Pagi-pagi Iteung rada galau. Tersebab bingung di antara dua pilihan. Antara ngekorin si Bapak, atau nurutin maunya Sarah ke pameran buku. Ga sempet sholat istikhoroh, karena si Bapak sudah bilang,

"Ya udah mending sekalian jalan-jalan aja sanah!"

Baiklah. Itu artinya ga mau di ekorin. Padahal nih Iteung aslinya maless banget mau keluar rumah. Enakan tidur. Karena nyupir (nyuci piring) dah beres, nyetir juga(nyetrika). Bayangannya sih, ngelempingin badan karena dari kemaren udah kebanyakan ngukur jalan. Capek. Iteung ga biasa ngelempeng- ngelempingin alis, apalagi merah-merahin bibir.

Akhirnya galau berakhir. Cuslah kita ke pameran buku. Bukan mau borong seperti kata emaknya faiz, tetangga rumah. Cuma nyuci mata ajah. Lihat buku berserakan dan diskon bertebaran, cukuplah buat hiburan. Sekalian mau ketemuan ama mpok Dian, si Encih yang baru pindahan dari Balikpapan.

Kali ini kembali ketemu sama bis kota. Bis penuh drama pengamen jalanan yang ga abis-abis nyumbangin lagu sambil nyodorin kenclengan, entah kapan kelarnya karena gantian bolak-balik kayak setrikaan. Berakhir sudah kalau sudah di jalan tol. Alhamdulillah.. Ribet asli, nyanyi seikhlasnya. 😅

Dari rumah pake roda dua, nyambung pake roda enam atau delapan. Biar bisa tidur nyaman. Entah kenapa, Jakarta itu ramai, tapi panas dan bikin kepala sering keliyengan. Benarlah kalau safar itu separoh azab, sering nyiksa kalau sudah pusing kepala. Terpaksa Iteung bekel pil ATM alias antimo anti  mabok. Jangan ada yang ngetawain,ya. Biarlah begini, meski cuma Bekasi-Jakarta yang penting nyampe.

Meski males akhirnya tetep berangkat. Kadang mikir aja, biarlah Sarah seneng dan nyimpen kenangan kalau emaknya akhirnya mau nganter dia. Karena sejak dulu saya lebih anteng jahit daripada banyak keluar jalan-jalan. Saatnya emak-emak banyak pikenik biar awet muda, katanya 😳Padahal deuhh.. Kebayang banget siang-siang ada di rumah dan tidur lelap. Ga papah. Mari kita nikmatin ajah!

Pil atm mulai bekerja. Biarlah Iteung sejenak mengheningkan cipta.

Apapun kegiatan para emak hari ini, selamat menikmatinya. Semoga jadi kenangan indah buat keluarga. Capek hari ini, smoga jadi indah di hari depan.

Katanya kemaren hari Kartini, padahal kemaren hari sabtu 😉

April 2018

Iteung part 5

Iteung (lagi)

Bis masih kosong song saat Iteung naik masuk kedalamnya. Alhamdulillah, bisa duduk paling depan kiri, persis dibelakang kursi kondektur yang cuma seuprit. Lumayan, selain cepat sampainya kalau duduk paling depan, juga ngurangi rasa mual muntah yang sering melanda. Jalan selatan memang banyak bulak beloknya, lika likunya, persis sama lika liku laki-laki yang tak laku-laku karena luka-luka. Sama jalanan yang nanjak turun persis ciluuukk baaa. 

Pil ATM _aku tidak muntah_ alias antimo sudah siap sedia. Obat penolong saat perjalan jauh seperti ini sangat membantu. Selain ga mual muntah, juga bisa tidur lebih nyenyak.

Waktunya berangkat. Bis melaju perlahan. Dan Iteung mulai ngantuk. Mulailah nyari posisi paling enak. Sebenernya sambil buka pesbuk sama ig. Lumayan dapet hiburan, apalagi kalau pas baca komeng lucu. Karena sungguh, pemirsahh... Komen itu lebih menarik daripada statusnya. Segala berita tanah air wara wiri di beranda. Apalagi kalau bukan soal komeng menteri zaman now yang gemesiin rakyatnya. Belum lagi gosip pelakor yang masih anget aja kayak open lagi nyala. Dan banyak lagi berita yang mengiris hati. Kalau ga bisa jaga iman, susah rasanya jaga kewarasan di zaman ini. Zaman penuh fitnah dan penipuan.  Kudu banyak-banyak istighfar.

Ga lama pak supir mulai kotrak kotrek, ternyata mau nyalain musik. Duh, Ya Robb, lindungi kuping Iteung. Karena ternyata, saat musik itu nyala, suara gubuk deritanya Megy Zet mulai terdengar. Alahay, disusul sama Mansyur S yang isi baitnya ga jauh dari penderitaan cinta. Duh, penderitaan rakyat aja masih belum tahu kapan kelarnya, ini lagi ditambah lagu cengeng. Tahu ga, pemirsahh, tarif tol Cikarang Cileunyi naek, lho...berapa? 61rb. Padahal belum lama tarifnya ga sampai segitu. Ahay, diam-diam menghanyutkan, ya. Belum lagi macet luar biasa karena pembangunan jalan yang bekum juga kelar. Kepala Iteung mulai reaksi. Ah, mendingan cepet tidur sebelum ada mual datang. Tutup muka pake sapu tangan lanjut Bismika. Tiduurr.

Kebangun lagi itu lagu udah ganti lagi jadi Doel Sumbang sama Nini karlina. Alah Iteung jadi apal, ya. Maklum, dulu mau jadi gantinya Evie Tamala tapi ga jadi. 😅 Ternyata lagunya masih terus lanjut, ganti lagu cengeng zaman Iteung kecil dulu, entah siapa. Ya Robb, cepet sampeee..

O iya, tadi pas istirahat sholat. Hape seorang ibu mendadak bunyi. Lagunya indihe, pemirsahh... Hom tere bin abrehenehisakte tere bina kawajude meeraa... 😳Alhamdulillah Iteung dah selesai sholatnya pas hapenya bunyi gitu, tinggallah si ibu yang punya hape sama anak lelakinya yang akhirnya angkat tuh hape. Syukur deh tuh lagu ga kepanjangan bunyinya. Bisa repot kalau sepanjang sholat tuh lagu terus bunyi. Lain kali hapenya di silient gitu, ya. Biar sholatnya ga keganggu. Alhamdulillah kagak ada yang bunyi hapenya jaran goyang. Duhh.. 😂

Tapi meski macet dan segala ketidaknyamanan perjalanan ini, alhamdulillah tugas sebagai anak yang berusaha birrul walidaini tertunaikan. Walaupun belum bisa membahagiakan secara materi berkelimpahan, cukuplah sebulan sekali melihat mereka baik-baik saja. Setiap anak punya cara tersendiri untuk membuat orangtuanya senang, meski pastinya tak dapat membalas kebaikan mereka dengan materi sebanyak apapun.

Semoga yang masih ada orangtuanya, tetap  membahagiakan mereka sesuai dengan  kondisinya. Selalu mendoakan agar Alloh berikan kesehatan dan berkah melimpah.

Iteung masih di perjalanan. Semoga lancar dan tetap sehat.

Udara dingin mulai terasa. Langit tol Karawang Cikarang mulai gelap. Dan lagu cengeng itu masih saja mengalun. Ah, lupakan..supir bis mah bebaaasss 😂

Rabu, 10 Januari 2018

Iteung part 4

Nyi Iteung part 4

Nasib Iteung kalo lagi jalan, sering kena semprot si Bapak. Matanya jeli aja kalo pas lihat polisi, langsung nanya sama Iteung sudah pake sabuk pengaman apa belum. Tersebab emang Iteung itu males banget pakenya. Bukan apa-apa, agak ribet. Ga bebas gerak. Meski sebenernya Iteung juga tau itu semua demi keamanan diri sendiri.

Beda kalo pake helm. Jarak dekat aja rasanya wajib pake, ga usah pake disuruh. Nyadar diri banget kalo itu juga demi keamanan. Plus demi terhindar dari debu jalanan. Wajah jadi tertutup dan aman dari godaan mantan. Eh 😉

Ditambah tadi di tengah perjalanan, persis depan mata ada terjadi kecelakaan. Dua motor tabrakan. Kondisi hujan, bisa jadi jalanan jadi licin dan masing-masing lepas kendali. Terlihat sama Iteung pemotor satunya jatuh dan tergeletak seperti pingsan. Sementara pemotor satunya jatuh juga dan berupaya jalan merangkak ke pinggir jalan. Dalam kondisi ini, helm bisa membantu dari benturan yang bisa membahayakan kepala.

Sebetulnya, dibalik aturan lalu lintas yang memang masuk akal, semuanya demi keamanan. Contohnya kayak lampu bangjo. Masih banyak orang yang ga peduli dan maen selonong aja.

Iteung pernah ngobrol sama emak-emak soal aturan lalu lintas.

"ah, saya mah kalo di jalan, lampu merah aja berani terobos. Langsung aja jalan. Ga peduli belum ijo"

Wah, kalo Iteung mah ga berani. Bukan apa, aturan lampu bangjo itu dibuat demi keselamatan kita dan orang lain. Jangan dilihat soal kelakuan polisi yang seringnya bikin emosi ummat Islam. Itu lain soal. Ini di jalan. Bagaimana pun juga, kewajiban kita menjaga keselamatan diri dan orang lain.

Sama kayak sabuk pengaman. Dalam banyak kasus, pemakaiannya punya manfaat saat kita dalam kondisi kaget saat rem mendadak, dada kita bisa jadi aman dari benturan yang membahayakan.

Nah, ceritanya pas kita lagi di jalan tol sepulang dari Indramayu, dari kejauhan keliatan di sisi kanan ada pak polisi. Ga jauh darinya juga terlihat ada mobil patroli. Dengan sibuk sambil ngelirik, si Bapak nanya sama Iteung.

"Nyi, udah pake sabuk pengaman belum? tuh ada polisi di depan. Jangan main-main, ya! "

Pas si Bapak bilang gitu, mata Iteung jadi jeli lihat pak polisi berdiri di kanan jalan tol. Langsung meriksa dada dan meraba, barangkali lupa pake.

Nah, pas udah dekat. Ternyataaa.. Itu cuma patung polisi. Akhirnya kita berdua jadi ketawa. Haha.. Kena tepong kitah.

Buat para pengendara, jaga selalu keselamatan diri dan orang lain. Ingat sama orang-orang tercinta yang nunggu di rumah.

Buat yang suka bikin polisi tidur. Tolong, ya. Kalo buat itu jangan seenaknya dibikin susah dilewati. Bikinnya yang damai aja, supaya pas lewat ga jadi emosi. 😂

Iteung part 3

Iteung part 3

Kali ke dua mendatangi tempat itu masih saja ada rasa aneh. Deg-deg-an ga karuan. Meski sebenernya ga ada apa-apa. Tapi tetep aja beda. Males sih intinya. Tapi ini harus. Demi keutuhan cinta kita.😉

Setelah parkir motor, Iteung berjalan menuju ruangannya. Sudah tahu karena dulu sudah pernah kesini. Daan, di depan ketemu dengan mantan tetangga dulu, seorang ibu polisi. Dia tersenyum ramah dan kita saling sapa. Lalu bertanya apa keperluan Iteung datang ke situ. Bertemu dengannya sedikit mencairkan ketegangan, menghempaskan rasa males. Okelah, ini bagian yang harus dilalui. Sabaarr.

Iteung lebay?
Emang.
Kenapa?

Karena seringnya males punya urusan dengan kantor publik. Males dengan rumitnya birokrasi yang harus dilalui. Prinsip kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah itu bukan omong kosong. Coba saja tanyakan sama orang-orang yang mau bikin e-ktp. Berapa lama harus menghabiskan waktu sampe jadi. Setahun?  Dua tahun?  Bahkan banyak yang lebih dari itu.

Beberapa tahun ke belakang pernah datang ke sini. Dan bertemu dengan petugas yang Alhamdulillah ramah. Beliau santei menghadapi emak-emak macam Nyi Iteung.

Tapi kemaren agak beda. Begitu menghadap, ditanya keperluannya apa. Terpancar wajah lelahnya karena Iteung datang sudah siang menjelang lohor. Setelah ditanya, ternyata ada berkas yang belum dipenuhi. Terpaksa keluar lagi. Sementara si Bapak petugasnya tahu Iteung kecewa, beliaunya langsung bilang,

"Maaf ya, ibu. Maaf banget nih, bukannya saya mempersulit, tapi memang prosedurnya begitu. Kalo ibu ga melengkapi nya, maaf saya belum bisa bantu. Karena kita juga perlu buat arsip"

Sejenak Iteung langsung sesek rasa dada. Ah, kenapa musti terlewat. Tapi langsung istigfar. Okelah, ini masalah kecil. Berusaha damai dengan perasaan sendiri. Karena itu artinya harus keluar lagi dan harus nunggu lagi surat pengantar dari Tasik.

Alhamdulillah, Alloh mempermudah semuanya.  Pihak KUA Tasik sangat berbaik hati membantu. Mau mengirimkan berkas yang Iteung perlukan lewat wa yang akhirnya bisa diprint.  Beliau sangat baik dan rasanya baru itu Iteung rasakan kemudahan ketika punya urusan dengan kantor beliau.

Iteung sempat resah. Hampir pulang lagi. Biarlah urusan itu ga selesai kalau memang bikin ribet. Tapi pas inget lagi kalau ini hanya masalah kecil saja yang harus dilalui, akhirnya dilakoni.

Begitu masuk lagi, ternyata si Bapak petugasnya beranjak pergi memanggil petugas lain. Hahhh, sempet Iteung galau kalau ditinggal Bapaknya pergi, karena itu artinya urusan bisa lama. Tapi ternyata,

"Pak, tolong kesini. Gantikan dulu. Saya mau sholat dulu! "

Alhamdulillah, ternyataa... Beliaunya mau sholat dulu.

Beliau beranjak sambil lihat jam. Waktu sholat memang sudah masuk. Alhamdulillah.

Urusan dilanjut dengan petugas lain. Alhamdulillah lebih ramah dan urusan cepet selesai. Ga ada banyak pertanyaan seperti tahun lalu pernah ke sini.

Alhamdulillah. Akhirnya, Iteung bahagia, pemirsahh.
Itu artinya, buku nikah yang sempet lenyap tulisannya terkena banjir bakal diganti baru. Horeee... Buku nikah mau jadiii..

Halah, gitu aja kok jadi lebay, ya.
Karena hari ini surat-surat itu memang sangat diperlukan. Dan Alloh memudahkan urusan ini.
Terimakasih juga buat pak Polisi. Kali ini Iteung sungguh bahagia. Karena ternyata pak polisinya ramah. Yang ga ramah itu polisi tidur. Bikin susah. 😇

Kamis, 04 Januari 2018

Iteung part 1

Alhamdulillah

Akhirnya Nyi Iteung saba Jakarta. Untuk pertama kalinya nekad nyetir sendiri ke bandara suta. Padahal belum tahu rutenya. Setelah sebelumnya susah tidur karena mikirin gimana caranya bisa sampe ke sana. Agak lebay emang. Karena Iteung termasuk orang yang cepet  panik dan kagetan kalo di jalanan. Denger bunyi klakson kenceng aja bisa ngos ngosan saking terkejutnya. Lihat motor udah kayak semut, ikutan panik bisa maju apa kagak. Apalagi setelah pernah nabrak trotoar yang rasanya hampir merasa mau mati karena mobil hampir terbalik, itu sebab pas lagi belok ada motor nyelonong tiba-tiba motong jalan. Dari situ jadi takut dan trauma bawa mobil lagi. Maap, ye kalo rada lebay. Tersoal emang Iteung asli kalo sudah di jalan banyak paniknya daripada tenangnya. Alhamdulillah, setelah sebelumnya banyak doa minta sama Alloh, paniknya hilang dan muncul berani.

Setelah banyak konsultasi pada ahli jalanan, hususnya emak-emak strong. Akhirnya Iteung jadi semangat lagi. Kata Ummu Rey, kudu dicoba dan dipaksa biar ntar jadi tau. Ntar ge lama-lama bisa jadi supir bis akap. Pesan yang berfaedah, ya. Nih emak-emak beda banget sama Nyi Iteung kalo di jalanan. Katanya ga bisa lihat jalan kosong langsung pindaaah. Kenceng kayak supir angkot ngejar setoran. Haha. Beda banget sama Nyi Iteung yang istiqomah ambil lajur tengah husus kendaraan lambat. Ga berani geser kiri apalagi kanan. Biar anteng asal ga kenceng. Biar lambat asal selamat. Alon-alon sing penting kelakon.

Ini semua demi Akang yang lagi safar dan pulangnya takut kehabisan bis damri. Jadilah Iteung ikutan mikir. Meski tadinya ga pengen jemput karena sebelumnya juga pilih taksi online, tapi akhirnya nyoba berani aja. Bismillaah.

Wah, ternyata Jekardeh malam hari indah sekali. Dengan kecepatan cuma kurang dari 60km per jam, leluasa lihat gedung-gedung tinggi menjulang dengan lampu yang terlihat indah. Nyi Iteung ga berani kenceng, penakut, makanya santei saja. Aslinya sih, karena masih takut mau pindah gigi lima, padahal jalanan malam itu sepi dan sangat lancar. Alhamdulillah. Mungkin berbanding terbalik dengan malem sebelumnya yang biasanya jalanan penuh dan macet karena pas tahun baru.

Gedung-gedung itu terlihat mewah dan indah. Meski bisa jadi menyimpan cerita kelam di dalamnya. Tentang kupu-kupu malam yang sudah naik kelas dari jalanan ke hotel mewah dan kasur empuk. Tentang para homreng yang ternyata banyak beraksi yang juga merasa berkelas. Beda dengan pelacur dan banci jalanan yang berserakan di pinggir jalan. Ini sebenarnya masalah yang sangat serius, penyakit menular dan sampah masyarakat. Merusak generasi muda. Entahlah, saat orang yang seharusnya mengurusinya tidak lagi sanggup atau ga peduli, kerusakan itu makin hari makin jadi. Sementara tugas orangtua mendidik anak-anak semakin berat sesuai dengan tantangan zaman ini. Semoga Alloh mampukan buat semua orangtua untuk mendidiknya.

Akhirnya, setelah keringetan karena masih agak takut, padahal ac mobil nyala. Alhamdulillah Iteung ditemani sama Sarah yang cuek dan santei. Sambil duduk silang kaki dan maenan hape, padahal emaknya dilanda bingung setiap lihat plang nanya mulu. Katanya,
"Udah lah, umi jalan aja terus. Santei aja!"
Udah gitu ya, pake si gugel maps yang sering bikin jengkel. Gimana ga, coba!
Saat plang petunjuk sudah jelas arahnya. Eh, dia malah bilang kudu belok ke kampung bla bla.. Lhaaa.. Kan aneh. Ada dua apa tiga kali tuh dia bunyinya gitu mulu.

"Sarah, itu kenapa sih gugel mapsnya bunyinya nyuruh kita belok mulu?. Kan plangnya jelas"

Sarah jawab,
"Udahlah ga usah didengerin, dia mah emang suka gitu. Ga jelas"😇

Emaknya nyengir aja. Tuh anak emang santei banget. Cocok sama emaknya yang panikan. Imbang.

Bukan apa-apa, pemirsahhh. Saya kadang takut kalo saya nyasar langsung ke hongkong. Kan repot baliknya. Haha.

O iya, bener. Akhirnya modal nekad jadi tau dan ngerti. Emang kadang kudu dicoba dipaksa untuk tau dan faham. Sama kayak kita, kadang terperosok dulu baru kemudian faham hikmahnya atas sesuatu.

Nyi Iteung cuma pengen cerita aja. Sekedar pengetahuan buat yang mungkin belum tau arah bandara, karena Iteung juga akhirnya kudu baca blog orang lain buat nyari tau dan harus tahu di terminal berapa kita masuk, soalnya kalo salah bisa berabe, jauh. Dari tol Bekasi Timur, masuk ambil tol dalam kota lurus terus arah Cawang Grogol kemudian ikutin trus plang arah Sutta, sudah jelas. Sebelum sampe terminalnya, di atas aspal tertulis nama-nama terminal yang dituju. Alhamdulillah, sehat, selamat, lancar.

Nuhun juga buat Gilang atas segala wasiatnya. 😉
ekarosariasarah.blogspot.com

Iteung part 2

Nyi Iteung part 2

Alhamdulillah atas segala hal yang terjadi.

Nah, kali ini Iteung mau cerita perjalanan waktu  ke Jogja dari Solo. Perjalanan pertama berani bawa mobil sendiri ke jalan raya. Mungkin karena beda dengan Bekasi yang lebih macet dan padat kendaraan. Jadi ada perasaan tidak terlalu panik dan takut. Lagi pula daerahnya tidak seperti arah Tasik yang jalananya banyak ciluk ba. Tau jalan ciluk ba, ga?  Kalo kita jalan pas nanjak trus turun kan ada mobil lain di arah berlawanan. Itu namanya jalan ciluuuk baaaa.

Permirsahh,
Mohon maap kalau Iteung cerita perjalanan, ya.  Semoga tidak dipahami sebagai bentuk pameran. Karena Iteung mah sadar sesadar-sadarnya kalo ternyata ada ratusan mobil rentalan, sawah terbentang luas hektaran, tanah abang seluas kaki kuat jalan, rumah real estate yang keren berjejeran. Itu semuanya ternyata bukan punya Iteung. Itu punya orang lain. Haha

Karena bagi Iteung mah, kalo mau merasa memiliki dunia dan seisinya, cukup rajinlah sholat dua rokaat sebelum subuh, yaitu sholat fajar. Termasuk bagi lelaki, cukup sholat subuh jamaah di mesjid, maka hari itu akan dapat jaminan penuh dari Alloh.

Iteung juga inget dengan ucapan seorang teman saat dia jadi mc. Bahwa semua harta yang kita miliki di dunia ini, tidak berarti apa pun jika tidak digunakan untuk kepentingan iqoomatuddin.

##
Sehari sebelumnya Iteung sudah ngobrol sama si Bapak kalo mau ke Jogja. Ada amanat Quran wakaf dari jamaah Bekasi untuk panti asuhan di Jogja. Iteung bilang mau bawa mobil sendiri.  Minta izin supaya diridloi biar perjalanannya mudah dan berkah. Awalnya ga dipercaya, karena si Bapak tau persis kalo Iteung mah mudah panik kalo di jalan dan yang jelas ga tau arah ke sananya.  Tapi akhirnya diizinkan. Malamnya sebelum berangkat mohon sangat sama Alloh, tolong selamatkan dan lancarkan.

Perjalanan diawali dari Masaran trus ke Solo jemput Alfi dan Zulay yang tau jalan.

Dan, ternyata sampai Solo trus nyasar. Harusnya yang dituju itu Ngruki, malah nyasar ke mol Solo Baru. Padahal sehari sebelumnya sudah diajari langsung sama si Bapak rute ke Ngruki. Hehe.. Kelemahan Iteung. Susah ngapalin jalan, sesusah ngelupain mantan. Haha.

Akhirnya dijemput juga sama suaminya Zulay. Beliau pake motor dan Iteung ikutin dibelakangnya. Aneh emang ya.

Perjalanan ke Jogja itu ternyata seru. Iteung bertiga sama Alfi dan Zulai. Mereka berdua mah santei aja. Percaya aja. Padahal mereka belum tau kalo ternyata supirnya baru bisa nyetir dan turun ke jalan raya. Hehe. Tapi Alhamdulillah, kita semua selamat dan sehat sampe tujuan. Bahkan akhirnya reunian sama alumnus Jogja. Amanat quran wakaf tertunaikan. Berkahnya bisa reunian. Pas sampe Solo lagi, barulah Iteung cerita yang sebenarnya. Mereka bilang, ooooooooo ternyata. O nya sengaja dipanjangin ya. Haha

Pulangnya ada kejadian heroik. Saat dua lajur kiri kanan penuh mobil, sementara akhirnya Iteung ambil lajur kanan, ternyata di belakang ada bis rahayu yang terkenal suka kenceng kalo di jalan. Supirnya ngebut dan bunyikan klakson ga berhenti nyuruh Iteung minggir. Akhirnya dengan kekuatan bismillah, karena ga mungkin ambil kiri, soalnya kiri juga ada mobil lain. Iteung tetiba jadi pembalap dadakan. Ikutan ngebut karena dikejar supir bis, sampe akhirnya ketemu lajur kiri yang kosong barulah Iteung minggir.  Terlaaalu. Padahal mah Ya robb, itu detak jantung berdegup lebih kenceng dari biasanya. Bayangkan aja, baru bisa nyetir trus kudu ngebut karena diklaksonin terus sama supir bis.

Alhamdulillah, selamat.
Satu lagi pas ketemu tanjakan, karena masih baru dan belum faham, mobil ga mau maju. Ternyataaa, koplingnya ga Iteung lepas. Hehe.. Tengsin juga. 😉

Tiba lebaran akhirnya kita balik ke Tasik. Sampe Jogja tetiba si Bapak demam tinggi. Dengan bingung dan bismillah, dia nyerah disupirin Iteung. Mau ga mau. Qodarulloh, the power of kefefet itu akhirnya membuat Iteung jadi lancar. Jadi faham saat harus ada di jalanan raya lengkap dengan segala keruwetannya.
#

Ada satu hal yang Iteung selalu ingat. Tentang seorang mujahidah bumi Syam yang mengendarai mobil dengan muatan bom, umurnya masih sangat muda. Kalo ga salah masih 18 tahun, dia sudah melakukan isytisyhad. Maa syaa Alloh, wanita kerren. Apa pun pendapat orang di luar sana, bagi Iteung mah dia tetap mengagumkan. Mengorbankan nyawanya melawan kaum zionis Yahudi. Semoga niatnya tercatat sebagai syahid.

Kalo Iteung mah yang terpenting make fasilitas itu untuk kebaikan yang berpahala, bukan hanya gaya semata. Semoga begitu. Dan hal lain yang bikin pede ke jalan raya adalah karena emang sudah punya sim. Tapi jangan ditanya ya, sim nya resmi atau sim salabim. Itu sudah rahasia umum.

Satu lagi, pas di Jogja sempet salah jalan sampe dua kali karena miskomunikasi. Akhirnya muter jalan sementara di ujung jalan ada yang minta duluan. Tapi Iteung nekad, dan akhirnya habis diomelin ibu-ibu samping si sopirnya. Hehe.. Pengalaman diomelin orang di jalan.

Sekian,
Semoga yang baca tetep sehat dan bahagia. 😉

Ketemuan

Alhamdulillah

Sepagian ini sudah keluar rumah, mau ketemu dengan orang-orang yang semoga kami saling mencintai karena Alloh. Dulu bertemu dalam kebaikan, semoga akan selalu begitu. Bertemu dengan seseorang yang sebelumnya tidak saling kenal, ketemu hanya sekali saja, tapi cinta di atas iman ini membuat kami akrab. Semoga kelak akan saling menjadi syafaat dan bersaksi bahwa kami saling mencintai karena Alloh.

Suami mengizinkan. Meski kebiasaannya yang suka isengin saya kalo mau pergi ga hilang. Motor sudah dikeluarkan sama suami, harusnya kan saya juga keluar. Tapi karena isengnya, motor sudah dikeluarkan trus pintu rumah juga dikunci. Saya nya kan jadi ga bisa keluar. Begitu saya lihat wajahnya, dia nya cuma nyengir senyum-senyum seneng bisa ngerjain saya. Sering begitu. Kalo pas kita mau keluar rumah bareng, tiba-tiba aja pintu rumah dikunci dari luar sambil bilang, 'aku pergi dulu, ya! '. Padahal kita kan mau keluar bareng. Dia nya senyum-senyum lagi aja.

Perjalanan dengan motor bisa mudah nyelip di antara mobil yang lagi ngantri panjang karena macet nunggu kereta lewat. Kalo pas bawa motor, saya berani nyalip. Kenceng pun masih berani, nyalip bis asal penuh perhitungan juga masih berani meskipun ga sering. Cuma satu aja yang tetep saya ga berani nyalip, yaitu nyalip kereta api. Biarlah dia lewat duluan, saya rela nunggu belakangan.

Hari ini kembali naek bis kota. Dan motor saya titipkan di penitipan. Sementara rindu, saya titipkan pada tatapannya saat tadi melepas saya pergi. 😘

Sudah lama sekali sejak ga pernah lagi ke tanah abang, saya absen naek angkutan umum ini. Sebenernya males banget, males sama pengamen nya yang naik turun gantian bisa sampe sepuluh kali sebelum akhirnya bis masuk jalan tol. Belum lagi lagunya ga berubah dari zaman ke zaman, itu-itu aja. Kalo yang sopan sih masing mending, kalo yang kasar, itu yang bikin kesel. Tapi syukurlah, kali ini cuma dua pengamen aja yang tampil. Saya ga respek dengan mereka ini. Saya lebih respek dengan pedagang asongan. Karena mereka bekerja.

Perjalanan, selalu melahirkan pelajaran. Tentang apa pun. Tentang ni'mat sehat dan hidup dalam iman kepada Alloh. Ternyata Alloh masih memberikan waktu buat kita, agar kita punya kesempatan untuk terus beramal sholeh dan minta ampun atas segala salah dan dosa. Tentang kehidupan orang lain yang ternyata lebih sulit dari kita. Betapa banyak yang harus kita syukuri.

Shobaahul khoir,
Awali pagi dengan dzikir dan istighfar