Kamis, 04 Januari 2018

Iteung part 2

Nyi Iteung part 2

Alhamdulillah atas segala hal yang terjadi.

Nah, kali ini Iteung mau cerita perjalanan waktu  ke Jogja dari Solo. Perjalanan pertama berani bawa mobil sendiri ke jalan raya. Mungkin karena beda dengan Bekasi yang lebih macet dan padat kendaraan. Jadi ada perasaan tidak terlalu panik dan takut. Lagi pula daerahnya tidak seperti arah Tasik yang jalananya banyak ciluk ba. Tau jalan ciluk ba, ga?  Kalo kita jalan pas nanjak trus turun kan ada mobil lain di arah berlawanan. Itu namanya jalan ciluuuk baaaa.

Permirsahh,
Mohon maap kalau Iteung cerita perjalanan, ya.  Semoga tidak dipahami sebagai bentuk pameran. Karena Iteung mah sadar sesadar-sadarnya kalo ternyata ada ratusan mobil rentalan, sawah terbentang luas hektaran, tanah abang seluas kaki kuat jalan, rumah real estate yang keren berjejeran. Itu semuanya ternyata bukan punya Iteung. Itu punya orang lain. Haha

Karena bagi Iteung mah, kalo mau merasa memiliki dunia dan seisinya, cukup rajinlah sholat dua rokaat sebelum subuh, yaitu sholat fajar. Termasuk bagi lelaki, cukup sholat subuh jamaah di mesjid, maka hari itu akan dapat jaminan penuh dari Alloh.

Iteung juga inget dengan ucapan seorang teman saat dia jadi mc. Bahwa semua harta yang kita miliki di dunia ini, tidak berarti apa pun jika tidak digunakan untuk kepentingan iqoomatuddin.

##
Sehari sebelumnya Iteung sudah ngobrol sama si Bapak kalo mau ke Jogja. Ada amanat Quran wakaf dari jamaah Bekasi untuk panti asuhan di Jogja. Iteung bilang mau bawa mobil sendiri.  Minta izin supaya diridloi biar perjalanannya mudah dan berkah. Awalnya ga dipercaya, karena si Bapak tau persis kalo Iteung mah mudah panik kalo di jalan dan yang jelas ga tau arah ke sananya.  Tapi akhirnya diizinkan. Malamnya sebelum berangkat mohon sangat sama Alloh, tolong selamatkan dan lancarkan.

Perjalanan diawali dari Masaran trus ke Solo jemput Alfi dan Zulay yang tau jalan.

Dan, ternyata sampai Solo trus nyasar. Harusnya yang dituju itu Ngruki, malah nyasar ke mol Solo Baru. Padahal sehari sebelumnya sudah diajari langsung sama si Bapak rute ke Ngruki. Hehe.. Kelemahan Iteung. Susah ngapalin jalan, sesusah ngelupain mantan. Haha.

Akhirnya dijemput juga sama suaminya Zulay. Beliau pake motor dan Iteung ikutin dibelakangnya. Aneh emang ya.

Perjalanan ke Jogja itu ternyata seru. Iteung bertiga sama Alfi dan Zulai. Mereka berdua mah santei aja. Percaya aja. Padahal mereka belum tau kalo ternyata supirnya baru bisa nyetir dan turun ke jalan raya. Hehe. Tapi Alhamdulillah, kita semua selamat dan sehat sampe tujuan. Bahkan akhirnya reunian sama alumnus Jogja. Amanat quran wakaf tertunaikan. Berkahnya bisa reunian. Pas sampe Solo lagi, barulah Iteung cerita yang sebenarnya. Mereka bilang, ooooooooo ternyata. O nya sengaja dipanjangin ya. Haha

Pulangnya ada kejadian heroik. Saat dua lajur kiri kanan penuh mobil, sementara akhirnya Iteung ambil lajur kanan, ternyata di belakang ada bis rahayu yang terkenal suka kenceng kalo di jalan. Supirnya ngebut dan bunyikan klakson ga berhenti nyuruh Iteung minggir. Akhirnya dengan kekuatan bismillah, karena ga mungkin ambil kiri, soalnya kiri juga ada mobil lain. Iteung tetiba jadi pembalap dadakan. Ikutan ngebut karena dikejar supir bis, sampe akhirnya ketemu lajur kiri yang kosong barulah Iteung minggir.  Terlaaalu. Padahal mah Ya robb, itu detak jantung berdegup lebih kenceng dari biasanya. Bayangkan aja, baru bisa nyetir trus kudu ngebut karena diklaksonin terus sama supir bis.

Alhamdulillah, selamat.
Satu lagi pas ketemu tanjakan, karena masih baru dan belum faham, mobil ga mau maju. Ternyataaa, koplingnya ga Iteung lepas. Hehe.. Tengsin juga. 😉

Tiba lebaran akhirnya kita balik ke Tasik. Sampe Jogja tetiba si Bapak demam tinggi. Dengan bingung dan bismillah, dia nyerah disupirin Iteung. Mau ga mau. Qodarulloh, the power of kefefet itu akhirnya membuat Iteung jadi lancar. Jadi faham saat harus ada di jalanan raya lengkap dengan segala keruwetannya.
#

Ada satu hal yang Iteung selalu ingat. Tentang seorang mujahidah bumi Syam yang mengendarai mobil dengan muatan bom, umurnya masih sangat muda. Kalo ga salah masih 18 tahun, dia sudah melakukan isytisyhad. Maa syaa Alloh, wanita kerren. Apa pun pendapat orang di luar sana, bagi Iteung mah dia tetap mengagumkan. Mengorbankan nyawanya melawan kaum zionis Yahudi. Semoga niatnya tercatat sebagai syahid.

Kalo Iteung mah yang terpenting make fasilitas itu untuk kebaikan yang berpahala, bukan hanya gaya semata. Semoga begitu. Dan hal lain yang bikin pede ke jalan raya adalah karena emang sudah punya sim. Tapi jangan ditanya ya, sim nya resmi atau sim salabim. Itu sudah rahasia umum.

Satu lagi, pas di Jogja sempet salah jalan sampe dua kali karena miskomunikasi. Akhirnya muter jalan sementara di ujung jalan ada yang minta duluan. Tapi Iteung nekad, dan akhirnya habis diomelin ibu-ibu samping si sopirnya. Hehe.. Pengalaman diomelin orang di jalan.

Sekian,
Semoga yang baca tetep sehat dan bahagia. 😉

Ketemuan

Alhamdulillah

Sepagian ini sudah keluar rumah, mau ketemu dengan orang-orang yang semoga kami saling mencintai karena Alloh. Dulu bertemu dalam kebaikan, semoga akan selalu begitu. Bertemu dengan seseorang yang sebelumnya tidak saling kenal, ketemu hanya sekali saja, tapi cinta di atas iman ini membuat kami akrab. Semoga kelak akan saling menjadi syafaat dan bersaksi bahwa kami saling mencintai karena Alloh.

Suami mengizinkan. Meski kebiasaannya yang suka isengin saya kalo mau pergi ga hilang. Motor sudah dikeluarkan sama suami, harusnya kan saya juga keluar. Tapi karena isengnya, motor sudah dikeluarkan trus pintu rumah juga dikunci. Saya nya kan jadi ga bisa keluar. Begitu saya lihat wajahnya, dia nya cuma nyengir senyum-senyum seneng bisa ngerjain saya. Sering begitu. Kalo pas kita mau keluar rumah bareng, tiba-tiba aja pintu rumah dikunci dari luar sambil bilang, 'aku pergi dulu, ya! '. Padahal kita kan mau keluar bareng. Dia nya senyum-senyum lagi aja.

Perjalanan dengan motor bisa mudah nyelip di antara mobil yang lagi ngantri panjang karena macet nunggu kereta lewat. Kalo pas bawa motor, saya berani nyalip. Kenceng pun masih berani, nyalip bis asal penuh perhitungan juga masih berani meskipun ga sering. Cuma satu aja yang tetep saya ga berani nyalip, yaitu nyalip kereta api. Biarlah dia lewat duluan, saya rela nunggu belakangan.

Hari ini kembali naek bis kota. Dan motor saya titipkan di penitipan. Sementara rindu, saya titipkan pada tatapannya saat tadi melepas saya pergi. 😘

Sudah lama sekali sejak ga pernah lagi ke tanah abang, saya absen naek angkutan umum ini. Sebenernya males banget, males sama pengamen nya yang naik turun gantian bisa sampe sepuluh kali sebelum akhirnya bis masuk jalan tol. Belum lagi lagunya ga berubah dari zaman ke zaman, itu-itu aja. Kalo yang sopan sih masing mending, kalo yang kasar, itu yang bikin kesel. Tapi syukurlah, kali ini cuma dua pengamen aja yang tampil. Saya ga respek dengan mereka ini. Saya lebih respek dengan pedagang asongan. Karena mereka bekerja.

Perjalanan, selalu melahirkan pelajaran. Tentang apa pun. Tentang ni'mat sehat dan hidup dalam iman kepada Alloh. Ternyata Alloh masih memberikan waktu buat kita, agar kita punya kesempatan untuk terus beramal sholeh dan minta ampun atas segala salah dan dosa. Tentang kehidupan orang lain yang ternyata lebih sulit dari kita. Betapa banyak yang harus kita syukuri.

Shobaahul khoir,
Awali pagi dengan dzikir dan istighfar

Rabu, 20 Desember 2017

Catatan hati suami1

#catatan_hati_suami1

Seberapa pun besarnya rasa hati ingin mempertahankan, jika memang taqdirnya harus berpisah, maka tak ada yang sanggup menahannya.

"Maaf, Mi, gimana dengan istri saya, apa dia sudah bicara dengan Umi? barangkali dia berubah pikiran."

Pertanyaan yang berulang ditanyakannya setiap kali ditaqdirkan bertemu saat hendak ke masjid, sebelum akhirnya pergi meninggalkan kota ini dan segala kenangan di dalamnya. Meninggalkan semua anak-anaknya dan kenangan tentang mereka. Membungkusnya dalam rindu dan doa yang panjang. Cinta mantan belahan jiwanya tidak dapat dia pertahankan. Semuanya berakhir di meja pengadilan. Inilah taqdir cintanya. Meski jangan pernah ditanyakan, seberapa besar dia mencintai wanita yang pernah bersamanya belasan tahun ini bahkan hampir menjelang angka puluhan tahun. Bahkan saat si istri sudah jelas akan menikah lagi, dia masih terus berharap. Dia berharap saat bertanya pada saya, mantan istrinya akan mau diajak rujuk. Tapi nyatanya tidak. Akhirnya dia menyerah. Selesai semuanya.

-------------
Seorang wanita pernah mengutarakan keinginannya agar suaminya belajar kitab yang selama ini hanya bisa dipelajari lewat bangku kuliah ,ingin suaminya menjadi seorang yang berilmu, jika bukan dikatakan ingin menjadi seorang ustadz. Dia menganggap jika suaminya mampu seperti yang dia inginkan meski tidak punya latar belakang pendidikan pesantren dan setaranya sebelumnya.

Keinginan yang bagus. Meski terkesan dipaksakan. Karena kondisinya yang sudah berbeda.

Cita-cita si wanita, mendambakan seorang suami ustadz. Keinginan yang tidak wajar saat sudah bersuami dan ternyata suaminya bukan ustadz. Dia merasa bangga jika punya suami berilmu dan bisa membaca Kitab-kitab.

------------

Akhirnya si wanita tercapai keinginannya. Menikah dengan seorang ustadz yang usianya jauh lebih muda. Diawali dengan hubungan terlarang. Berawal dari sms yang saling berbalas, kemudian saling telpon dan curhat masalah rumahtangga, sampai akhirnya memutuskan khulu'atas suaminya.

Inilah kebahagiaan bagi syetan yang berhasil menghancurkan rumah tangga anak Adam. Rumahtangga yang awalnya baik-baik saja. Si istri wanita yang baik, begitu juga dengan suaminya. Akhirnya hancur berantakan. Meninggalkan rasa sedih dan sakit di hati anak-anaknya dan orang sekitarnya yang masih berharap rumahtangganya utuh.

Inilah yang saya khwatirkan jika seorang wanita sudah berani curhat masalah rumahtangga pada lelaki lain. Ustadz adalah manusia biasa. Ustadz hanyalah gelar sematan dari orang lain. Toh yang paling penting, saat kita tahu tentang ilmu din, maka tugas kita adalah mengamalkannya. Mulianya manusia bukan hanya karena gelar semata, tapi semuanya karena taqwa.

Eka Rosaria

Sabtu, 09 Desember 2017

alam desaku



Bawa motor di jalanan kampung halaman serasa berada di dunia lain. 😉 Tanpa macet dan asap berlebihan. Meski pun saya tetaplah selalu di kiri. Apalagi pengalaman pertama bawa motor matic dengan perjalanan lumayan jauh, degdegan dan takut. Ini motor punya adek, jadinya masih kaget karena terbiasa pake motor gigi. Alhamdulilah bawa motor di sini tuh artinya nyetir motor, kebayang kalau motor dibawa-bawa. Berat kali yah 😅

Bener-bener nyaman. Pemandangan kiri kanan jalan masih menyisakan hamparan sawah sejauh mata memandang dan pepohonan hijau nan rindang. Indah dipandang mata. Pun masih sangat banyak tanah resapan air sehingga terhindar dari bencana banjir. 

Saya mengalami saat awal tinggal di Bekasi, suasana masih banyak pohon dan kebon pisang atau rambutan. Atau hamparan tanah penuh alang-alang. Kemudian bertahun berlalu dan sekarang hampir semuanya tak lagi terlihat. Berganti dengan banyak bangunan tanpa banyak menyisakan resapan air. Agak miris memang. Suasana kota semakin panas tanpa pepohonan. Tinggal jalanan dan ruko-ruko kosong di kiri kanan. Awalnya tanah kosong, berganti ruko atau perumahan, lalu banyak ditinggal pemiliknya dan dibiarkan kosong. Pemandangan yang kontras.

Entah bagaimana bertahun kemudian akan berubah suasana kota. Tapi taqdir membawa saya hidup dan tinggal. Kota dengan dakwah yang semarak menggeliat di mana-mana. Kota di mana banyak orang hijrah secara fisik dan jiwa. Alhamdulillah, di mana pun berada, yang terpenting adalah dekat dengan masjid dan menjadi bagian yang memakmurkannya. Punya banyak tetangga yang beriringan mendatangi majlis ilmu. Sehingga punya bekal dan modal mendidik diri dan keluarga dalam rangka iqomatuddin. Sekecil apa pun peran kita, semoga senantiasa bernilai pahala.

kupat tahu air tanjung





Selalu ada keajaiban di dunia ini, semuanya menakjubkan. Subhaanalloh, maha suci Alloh yang telah menciptakan apa saja tanpa sia-sia. Seperti air tanjung Kawalu Tasikmalaya. Air asin alami yang muncul di sungai milik warga. Pada akhirnya air asin itu dimanfaatkan warga untuk merebus ketupat sehingga terasa gurih dan lebih kenyal alami serta awet tak mudah basi. Ketupat air tanjung ini rasanya memang beda. Ditambah dengan kuah kacang khas ketupat ala Tasik, maa syaa Alloh, Alhamdulillah, nikmat. 


Penasaran?
Di daerah Tasikmalaya memang sangat banyak penjual ketupat sebagai makanan khas. Seperti kota Jakarta yang punya ketoprak dan Magelang yang juga punya ketupat khasnya. Setiap daerah memang punya cita rasa beda. Tapi yakin, semuanya tetap enak dan mudah ditemukan. Asal ada uang dan kesempatan. 


Nah,
Jika Anda ada jalan ke Tasikmalaya, cobalah mampir dan rasakan ketupat air tanjung. In syaa Alloh ketagihan. Makanan yang tak mengenal cuaca. Mau pas dingin atau panas tetep terasa nikmatnya. Asalkan Anda sedang lapar.



Itulah di antara keajaiban Alloh yang tidak sia-sia. Manfaat buat manusia, menghasilkan rasa dan dana. Hasil keajaiban dunia ini bisa dinikmati di warung kupat Emih Enok yang tempatnya persis depan Pasar Gegernoong atau Terminal Gegernoong. Dengan harga murah satu porsinya hanya 7rb harga zaman sekarang yang termasuk murah banget, Anda sudah bisa menikmatinya. Gratis teh tawar panas setiap Anda makan kupat ini. 
 
Termasuk juga keajaiban dunia yang sudah masyhur adalah emak-emak yang punya alis alami yang sudah Alloh kasih begitu bagus, kemudian dicukur diganti alis baru yang dilukis pake pensil. Jangan ya, nyukur alis itu harom, dosa. Karena cantik itu ga mesti alis dilukis, cukup Anda senyum manis dengan tulus aja itu sudah bisa ngalahin teh manis.

Sabtu, 09 Januari 2016

Sayangilah diri kita...


Kejadiannya baru semalam. Jalanan yang tadinya sepi tetiba jadi rame dan macet. Seorang anak muda pengemudi mobil dan seorang lelaki lebih tua darinya terlibat adu mulut, mereka cekcok hebat. Saya yang lewat saat itu kaget dan takut juga sebenarnya. Suaranya makin tinggi dan tidak ada yang mau ngalah. Padahal si bapak pengendara motor bawa anak kecil perempuan sekitar 3 tahunan yang duduk di depan. Saya cuma kasihan sama anaknya yang masih duduk di motor, sementara tangan bapaknya nunjuk- nunjuk si pengemudi mobil, seperti mau mukul.

Minggu, 15 November 2015

dress kode






Kakinya kelihatan sekali, bahkan ketika sujud. Dia terus seperti itu hingga kepalanya berakhir menoleh ke kanan dan kiri.


Romadlon lalu saya diberi kesempatan ikut hadir menemani suami di acara buka bersama dan santunan yatim dlu'afa yang diadakan oleh sebuah radio Bekasi. Para undangan hadir tepat waktu, bahkan biasanya untuk acara-acara seperti ini, banyak sekali yang tidak mau ketinggalan, semuanya berusaha untuk datang duluan. Urusan dunia seperti ini selalu menarik banyak peminat. Panggilan yang lebih menarik daripada suara adzan dari masjid terdekat.