Sabtu, 09 Januari 2016

Sayangilah diri kita...


Kejadiannya baru semalam. Jalanan yang tadinya sepi tetiba jadi rame dan macet. Seorang anak muda pengemudi mobil dan seorang lelaki lebih tua darinya terlibat adu mulut, mereka cekcok hebat. Saya yang lewat saat itu kaget dan takut juga sebenarnya. Suaranya makin tinggi dan tidak ada yang mau ngalah. Padahal si bapak pengendara motor bawa anak kecil perempuan sekitar 3 tahunan yang duduk di depan. Saya cuma kasihan sama anaknya yang masih duduk di motor, sementara tangan bapaknya nunjuk- nunjuk si pengemudi mobil, seperti mau mukul.

Minggu, 15 November 2015

dress kode






Kakinya kelihatan sekali, bahkan ketika sujud. Dia terus seperti itu hingga kepalanya berakhir menoleh ke kanan dan kiri.


Romadlon lalu saya diberi kesempatan ikut hadir menemani suami di acara buka bersama dan santunan yatim dlu'afa yang diadakan oleh sebuah radio Bekasi. Para undangan hadir tepat waktu, bahkan biasanya untuk acara-acara seperti ini, banyak sekali yang tidak mau ketinggalan, semuanya berusaha untuk datang duluan. Urusan dunia seperti ini selalu menarik banyak peminat. Panggilan yang lebih menarik daripada suara adzan dari masjid terdekat. 

Ibu, mari jaga anak gadis kita, karena tidak ada Maryam kedua di dunia ini

Gadis itu tiba-tiba saja melahirkan seorang bayi laki-laki. Setelah sebelumnya mimpi dililit ular belang selama dua malam. Tidak pernah hamil, apalagi punya suami, tapi ajaibnya gadis itu bisa punya anak. Bahkan orangtuanya menganggap ini adalah keajaiban dan karunia dari Alloh untuk mereka. 

Kejadian ini akhirnya menyebar, mengundang banyak tanya. Terutama dari para tetangga dan orang sekitarnya. Apa mungkin ? Begitu pasti pertanyaannya. Ada sebagian merasa curiga jika gadis ini sebenarnya punya hubungan gelap dengan seorang lelaki. Karena sebagai manusia biasa, apa mungkin itu terjadi ? Rasanya mustahil.

Alloh sudah menciptakan manusia itu berpasang-pasangan yang lahir dari keduanya keturunan. Itu artinya seorang wanita tidak mungkin melahirkan tanpa suami.

Belakangan beritanya semakin melebar, hingga akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa gadis ini sebenarnya punya pacar seorang anak terpandang tapi tidak mendapatkan restu dari kedua orantua lelakinya. Hingga akhirnya sang gadis hamil, tapi restupun tetap tidak didapat.

Ada berapakah gadis seperti ini di dunia ? 
Jawabannya adalah; banyak, bahkan sangat banyak. Mencengangkan sekali. Anak gadis zaman sekarang sudah tidak malu lagi bergaul bebas layaknya orang sudah menikah, pacaran sampai akhirnya zina dan hamil diluar nikah. Sudah bukan rahasia lagi, mulai dari anak SMP, SMA, remaja, bahkan anak SD pun sudah ada yang ketagihan sex. Miris sekali.

Siapa yang seharusnya bertanggungjawab ?
Kitalah orangtuanya. Kita yang harusnya lebih teliti dan perhatian, dengan siapa anak kita bergaul, jam berapa seharusnya sudah ada di rumah. Kenali semua teman-temannya agar kita mudah memantaunya. Jangan biarkan anak kita lepas dari pandangan. Jika kita begitu dekat dan lekat dengan hape, terlebih dengan anak-anak kita. Arahkan pergaulannya dengan teman-teman yang membawanya pada kebaikan. Sekolahkan di tempat yang sangat peduli dengan pergaulan murid-muridnya. Maksimalkan usaha kita, semoga Alloh menjaganya dan kita orangtuanya.

Percayalah para ibu,..
Tidak ada Maryam kedua di dunia ini. Jangan sampai ada dari keturunan kita yang nabung bayi dulu baru nikah, karena seharusnya nikah dulu baru kemudian nabung.

Sabtu, 14 November 2015

Andai semua jalan seperti masjid

Satu kali saat di perjalanan ke Sukabumi, tiba-tiba saja terjadi kemacetan. Semua kendaraan mendadak berhenti, tepatnya dipaksa berhenti. Semula saya juga ga tahu kenapa macet, satu jam bukan waktu yang sebentar harus berhenti di jalanan. Kebayang rasanya harus nunggu lama. Tiba-tiba saja ada bunyi sirine dari mobil pengawal. Meraung-raung sangat keras, memaksa semua kendaraan minggir dan mengosongkan jalan untuk mobil itu. Di belakangnya beberapa mobil dengan plat merah dan hitam. Semua mafhum, itu adalah iring-iringan mobil pejabat yang lewat. Jalan disibak, tidak peduli kendaraan lainpun berhak atas jalan itu. Dengan leluasa mereka lewat. Dan kemacetan kembali terurai setelah iring-iringan itu habis.

Tidak banyak yang mau tahu jika pejabat itu punya agenda yang harus buru-buru dikerjakan. Perjalanan dinas yang katanya memerlukan waktu yang cepat hingga akses jalanpun bisa dengan leluasa dibuat berhenti ketika mereka lewat. Bisa dibayangkan perasaan orang lain yang punya hak sama atas jalan itu, harus menunggu sekian jam agar jalan kembali normal dan kendaraan bisa melaju. Dan yang pasti merekapun punya keperluan yang waktunya memerlukan cepat.

Dalam kondisi seperti itu, hak jalan yang seharusnya sama-sama bisa dinikmati tanpa harus mendahulukan pihak lain, ada banyak kekesalan yang terucap dari mulut-mulut mereka yang merasa haknya diambil. Mengeluarkan sumpah serapah, mendo'akan yang tidak baik, dan mengeluarkan semua unek-unek di hatinya karena kesal, meski sebenarnya ga ada gunanya juga. Toh para pejabat itu tidak mendengarnya.

Hal beda jika yang lewat itu mobil jenazah atau pemadam kebakaran. Tanpa disuruhpun, semua pengendara akan minggir dengan sendirinya. Memberikan akses jalan seluas-luasnya tanpa dipaksa atau terpaksa. Mereka benar-benar ikhlas. Maka biasanya, ucapan yang keluar dari mulut- mulut pengendara lainpun akan keluar kata-kata yang baik. Mendoakan keselamatan jika yang lewat mobil ambulance, karena itu tandanya ada yang meninggal atau sakit, atau pasien korban lalu lintas yang butuh penanganan cepat. Mendoakan agar musibah kebakaran cepat padam jika yang lewat mobil pemadam.

Itulah bedanya. Nyata sekali.

Sementara itu. Beberapa tahun yang lalu. Dalam kisah teladan para penerus kholifah Islam. Ada sebuah kisah yang patut ditiru. Saat kholifah Sulaiman bin Abdul Malik, kholifah kaum muslimin, raja tertinggi di dunia saat itu sedang thowaf di masjidil Harom diiringi kedua putranya di belakangnya. Beliau saat itu hendak bertemu dengan seorang ulama tabi'in Atho bin Abi Robah, seorang ulama satu-satunya yang boleh memberikan fatwa di kota Mekkah. Ketika pengawal akan menghalau kerumunan orang-orang yang sedang thowaf agar jalan untuk kholifah menjadi lapang, maka dengan tegas kholifah melarangnya.
" Ini adalah suatu tempat dimana tidak ada bedanya antara rakyat dengan raja, tiada yang lebih utama antara satu dengan yang lain kecuali karena amal dan taqwanya".

Ucapan yang sungguh keluar dari seorang kholifah yang memahami hakikat dirinya. Tidak merasa harus membedakan diri dengan yang lain, tidak perlu mengambil jalan orang lain untuk memuluskan tujuan dan keperluannya.

Ah, andai saja semua jalan itu seperti masjid. Yang tidak perlu dikawal sekedar bisa lewat dan membiarkan yang lain terabaikan.

Selasa, 15 September 2015

Hikmah dibalik musibah

Tidak selamanya musibah itu bikin kita jadi susah. Walaupun pastinya akan meninggalkan rasa sedih yang mendalam bagi yang mengalaminya. Karena ternyata, dibalik musibah itu ada hikmah besar, kebahagiaan yang justru tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Musibah yang menimpa jamaah haji beberapa hari lalu contohnya. Ada banyak hikmah yang dirasakan oleh yang mengalaminya. Banyaknya pahala yang akan Alloh berikan karena kematiannya dinilai husnul khotimah, in syaa Alloh.

Kematiannya dianggap syahid karena mati tertimpa reruntuhan, dianggap baik karena sedang dalam kondisi beribadah, akan dibangkitkan di hari kiamat dalam kondisi bertalbiyyah, disholatkan oleh jutaan kaum muslimin sebagai jaminan bisa masuk surga karena banyaknya doa orang yang menyolatkan, dikubur di tanah harom, keutamaan yang didapatkan si mayyit yang belum tentu didapatkan oleh muslim yang lain.

Berita terbaru, bagi keluarga yang ditinggalkan, akan mendapatkan uang dengan nilai yang besar dan gratis naik haji di tahun berikutnya, menjadi tamu kehormatan bagi kerajaan Saudi. Ini tentu hal yang membuat bahagia bagi keluarga si mayyit, meski harus kehilangan, tapi itulah taqdir, berkah setelah musibah.

Musibah yang tidak harus disikapi dengan ratap kesedihan berlebihan, karena taqdir mati itu pasti dan akan menimpa siapapun orang hidup.

Ada seorang teman yang ditinggal wafat suaminya. Bahkan ketika itu dia dan anaknya sedang sakit cukup parah. Dia tidak tahu jika hari itu, di ahad pagi setelah olahraga, suaminya akan pergi meninggalkannya untuk selamanya. Saya yakin, dia pasti sangat sedih karena kehilangan suami, tapi taqdir Alloh berlaku atasnya. Dia bersabar dengan musibah itu, menerimanya dengan ikhlas. Dan kemudian Alloh berikan kebahagiaan dengan banyaknya tangan-tangan yang memberikan bantuan materi, hingga kedua anaknya yang masih bersekolah ditanggung semua biayanya oleh orang dermawan.

Kematian membuatnya sedih. Tapi Alloh membebaskannya dari beban dunia. Alangkah baiknya urusan orang mukmin, diberi musibah dia bersabar, diberi nikmat dia bersyukur.

Semoga segala musibah yang kita alami, tidak lantas membuat kita putus asa, karena Alloh selalu mengirimkan kebahagiaan setelahnya. Dan janji Alloh itu pasti.

Kamis, 10 September 2015

Media dan jilbab

Tak bisa dipungkiri, peran media terhadap opini masyarakat akan satu hal masalah begitu sangat berpengaruh. Bagaimana kuatnya opini yang berkembang saat ini soal jilbab. Jilbab yang begitu sakral, yang merupakan identitas bagi seorang muslimah yang dengannya menunjukkan kemuliaan pemakainya sebagai satu kewajiban akan perintah Alloh, menjadi bulan bulanan sebagian orang yang tidak faham syari'at jilbab.

Hari ini, opini masyarakat terus digiring pada pemahaman bahwa ternyata orang berjilbab itu tidak sebaik yang dibayangkan, tidak sesuai dengan yang diinginkan. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Karena ulah segelintir orang yang berjilbab dengan akhlaqnya yang tidak sesuai dengan syari'at yang mengiringinya, lantas dengan mudah memvonis, ternyata berjilbab tapi kelakuannya bejat. Jika seperti itu, apa perlunya memakai jilbab, lebih baik tidak berjilbab tapi kelakuannya baik.

Kasus seorang istri berjilbab dengan tuduhan selingkuh, menjadi berita hangat yang hadir setiap hari di satu media. Tayang sehari lebih dari tiga kali, melebihi layaknya jadwal minum obat. Meski dilihat dari reaksi pembaca, masih banyak orang-orang yang cerdas akalnya, membela jilbab sebagai satu bentuk perintah Alloh dan juga  kemuliaan seorang muslimah. Soal akhlaqnya yang menyimpang, maka itu beda persoalan. Tapi tetap saja, gencarnya pemberitaan yang terus menerus, masih menyisakan banyak hujatan sana sini soal jilbab, menjelekkan pelaku, sekaligus menganggap bahwa ternyata jilbab bukan jaminan seorang muslimah selamat dari kekeliruan. Yang pada akhirnya terjadi perang komentar, saling hujat di antara pembaca yang sebenarnya sangat tidak perlu. Berdebat tiada ujungnya dan akhirnya sampai pada tahap menjelekkan syari'at Islam. Inilah yang sesungguhnya harus dihindari, membuat seseorang kufur dengan ayat Alloh yang jelas- jelas mewajibkan jilbab sebagai penutup aurot bagi muslimah.

Seorang wartawan dalam hal ini punya tanggung jawab yang sangat besar. Baik dihadapan manusia maupun dihadapan Alloh. Bagaimana berita yang ditulis menjadi bukti kelak dihadapan Alloh. Bukan saja bertugas sebagai penyebar berita, tapi ikut bertanggungjawab terhadap apa yang ditulisnya.

Semoga akan semakin banyak wartawan muslim yang memahami syari'at Islam, sehingga mampu menjadi pembawa syi'ar Islam lewat media. Menumbuhkan karakter positif bagi pembaca, dan tentunya bernilai pahala, bukan menuai dosa.

Dan satu hal, jika ada yang mengatakan bahwa kenapa yang berjilbab tapi kelakuannya tidak baik, mending ga berjilbab tapi kelakuannya baik. Saya katakan, muslimah yang berjilbab, dia sudah gugur kewajibannya kepada Alloh akan syari'at wajibnya jilbab. Soal akhlaq,  itu berkaitan langsung dengan pribadinya. Sementara muslimah yang tidak berjilbab, setiap helaan nafasnya merupakan dosa kepada Alloh karena aurotnya terbuka. Kalau dia seorang anak, maka dia sudah menyeret ayahnya ke neraka dengan dosanya, jika dia istri, maka sudah menyeret suami ke neraka karena dosanya tidak berjilbab.

Wallohua'lam bishshowaab

Selasa, 08 September 2015

Maag sembuh dengan jeruk nipis

Subhaanalloh. Maha suci Alloh yang telah menciptakan segala sesuatu di dunia ini tidak sia-sia. Apa yang Alloh ciptakan, pasti ada manfaatnya. Termasuk dengan jeruk nipis. Buah yang seringkali dipakai untuk pelengkap masakan, ternyata punya banyak khasiat luar biasa.

Saya, sejak kecil punya masalah dengan pencernaan. Kebiasaan jarang sarapan pagi dan makan tidak teratur, juga jarang konsumsi buah sayuran, menjadi sebab terganggunya saluran cerna. Efeknya, ketika harus bepergian, bisa dipastikan kena mabuk perjalanan, bisa muntah berkali- kali. Rasanya pasti sangat menyiksa, perjalanan jadi tidak nyaman dan badan jadi lemes. Kondisi ini biasanya akan mereda kalau dibantu dengan obat anti mabuk.

Akhirnya saya mencoba mencari info tentang obat maag selain harus konsumsi obat kimia dari dokter. Saya mencoba konsumsi jeruk nipis campur madu. Segelas air biasa dicampur satu sendok madu, ditambah perasan satu buah jeruk nipis. Diminum ketika bangun tidur dan perut dalam keadaan kosong. Tapi ingat, bangun tidur harus cuci tangan dulu, karena kita tidak tahu tangan kita semalam nginap dimana. Saya rutinkan itu hampir dua pekanan, sebulan kurang. Alhamdulillah, hasilnya luar biasa. Mabuk perjalanan sudah tidak, walau pun jalan harus berkelak kelok, Alhamdulillah sehat. Perjalanan jadi nyaman.

Satu hal yang jadi pelajaran. Betapa Maha Adilnya Alloh kepada hamba-hambaNya. Alloh berikan penyakit, Alloh juga yang mengirim obatnya. Tidak susah mencari, obat itu ada di sekitar kita. Alloh sudah siapkan semuanya. Ada jeruk nipis yang merupakan buah yang biasa kita tanam, ada madu yang sudah Alloh gambarkan di dalam Al qur'an.

وإذا مرضت فهو يشفين. الشعرا: 80

Dan apabila aku sakit, maka DIA lah Alloh yang menyembuhkanku. Qs. Asysyu'aro ayat 80

Subhaanalloh, Maha Suci Alloh dengan nikmat yang diberikanNya. Mari kita perhatikan kekuasan Alloh lewat tanaman, buah-buahan, dan madu yang sudah Alloh sediakan untuk kita. Bismillah, rutinkan, kemudian tawakkal. Semoga yang sakit segera sembuh dengan izin Alloh.