Minggu, 07 Oktober 2018

Solusi

Saya sedang sedikit merasa sibuk ketika satu telpon lewat wa muncul. Saya matikan lalu saya kirim chat, "lewat chat wa aja".

Chat berbalas, "tapi ini pentiiinngg banget, Umi. Sebentar aja, boleh, yaa".

Akhirnya saya meng-iyakannya.
Makin ke sini saya makin kurang nyaman kalau ditelpon, kecuali jelas perlunya dan tidak bertele-tele. Durasi nelpon yang kadang lama sering bikin telinga kurang nyaman. Lebih enak chat saja, lebih santai dan masih bisa disambi kerjaan lainnya. Bagi saya, menelpon itu harus punya limit waktu. Seperlunya. Jika sudah, segera diakhiri. Kasihan juga kalau tidak terlalu penting, karena bisa jadi orang yang kita telpon masih punya kegiatan lain. Saya rasa ini bagian dari adab menelpon.

Saya mengangkatnya. Terdengar suara parau mulai bicara. Bertanya tentang gangguan jin yakni 'ain. Apakah 'ain itu ada atau tidak. Saya mendengarkan, lalu  menghela nafas. Jujur, ada rasa malas ketika menjawab. Bukan tanpa alasan, persoalan itu serta masalah pelik yang menimpanya sudah terlalu sering ditanyakan. Solusi saya hanya satu,

"Datanglah ke majlis ilmu, datanglah! Apa yang memberatkan langkah kaki untuk datang ngaji. Hanya sepekan sekali, itu pun tidak lama. Menunut ilmu itu kewajiban dan tidak akan gugur kecuali saat datangnya kematian. Karena ilmu itu penting, bukan buat orang lain, tapi buat diri sendiri. Berlimpah sekali pahala saat kaki nelangkah keluar rumah menuju majlis ilmu. Langkah kakinya dapat pahala. Duduknya dapat doa. Malaikat mendoakan orang-orang yang duduk di majlis ilmu, bahkan sampai ikan-ikan di lautan, juga semut, semuanya ikut mendoakan. Dinaungi sayap malaikat selama duduk di majlis ilmu. Dan soal 'Ain sudah pernah dibahas. Begitu juga ilmu lainnya. Semua masalah pasti ada solusinya. Dan Allohlah yang membantu menyelesaikan masalah kita, asal kitanya mau mendekatkan diri pada-Nya".

Dia hanya menjawab, "iya, Umi. In syaa Alloh saya mau datang, semoga saya mendapatkan hidayah".

"In syaa Alloh nya bukan in syaa Alloh yang belum tentu datang, tapi in syaa Alloh harus benar in syaa Alloh. Hidayah itu dijemput, bukan ditunggu. Masalah sudah lama mendera tapi kita tetap tidak mau duduk di tempat yang diridloi-Nya, mau sampai kapan? Datanglah, dengan ilmu Alloh yang kita pelajari dan kita amalkan, semoga Alloh juga membantu menyelesaikannya".

Saya cukup gemes ketika bertanya berulangkali, berkali-berkali dengan pertanyaan yang sama, tapi ketika ditawarkan solusi, hanya didengar tapi tidak dilaksanakan.

Kita memang makhluq yang selalu berkeluh kesah, tapi Alloh itu Adil. Kita yang mendekat, maka Alloh akan lebih dekat dengan kita. Hidup jika hanya berkutat dengan masalah tanpa mau mencari solusi yang sudah jelas Alloh tawarkan, untuk apa?

Ujian, musibah, hakekatnya adalah tarbiyyah dari Alloh agar kita memahami bahwa tidak ada satu pun tempat yang layak untuk kita sandari kecuali hanya Alloh saja. Inilah bagian dari tauhid uluhiyyah, menjadikan Alloh satu-satunya tempat sandaran, tempat meminta, tempat paling pas untuk mengeluh. Manusia hanya manusia yang sejatinya sama antara satu dengan lainnya, punya banyak masalah yang mengiringi setiap episode hidupnya. Hanya mampu mendengarkan dan menawarkan solusi tanpa mampu menuntaskan.

Alloohushsomad, Alloh lah tempat kita bergantung.

Iyyaaka na'budu..hanya kepada -Mu kami beribadah.

Iyyaaka nasta'iin.. hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.

Tafsir ayat itu adalah, jika kita hendak minta pertolongan kepada Alloh, maka beribadahlah dahulu. Ibadah dulu, baru meminta. Dekati Alloh dulu, baru kemudian meminta. Jangan jauh tapi datang-datang lalu minta.

Dia menutup telponnya dengan tangisan dan kesiapannya untuk mencari solusi yang paling mumpuni, yakni datang ngaji.

Alhamdulillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar