Minggu, 07 Oktober 2018

Musibah

Saya masih ingat waktu kecil dulu. Kisaran tahun 83 atau 84. Menjelang masuk sekolah dasar.

Saat itu saya hanya mendengar sebagian orang yang lalu lalang bicara tentang kondisi hari itu. Menyuruh setiap yang keluar rumah agar memakai payung atau apa saja yang bisa menutupi kepala.

Rumah-rumah memutih karena abu yang menempel. Begitu pula jalanan, penuh debu tebal, rasa seperti di pantai saja. Antara hening sepi dan mencekam, begitulah suasana saat itu.

Saya juga sempat mendengar beberapa orang bilang,

"kiamat...kiamat"

Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga. Hari itu, katanya kiamat. Meski keadaan sebenarnya adalah menyerupai kiamat, entah. Tapi rasanya memang sungguh menakutkan. Saya seperti berada di alam lain. Sepi hening dan gelap.

Hari itu langit menghitam dengan semburat kemerahan yang menyala di sebagiannya. Seperti bara api di atas arang. Arang yang menghitam, kemudian memerah setelah terkena api. Rupanya hari itu gunung galunggung meletus. Banyak korban meninggal. Rumah dengan radius sekian kilo terkubur lahar panas. Hancur musnah. Menyisakan atap paling tinggi dan pucuk-pucuk pohon tanpa daun.

Tahun itu saya belumlah faham apa-apa selain apa yang ramai orang bicarakan dan perintah orangtua agar hati-hati menjaga mata supaya tidak terkena awan abu.

Sampai bertahun kemudian saat sudah berlalu bencana itu, barulah saya bisa melihat lewat poto-poto kondisi sekitar gunung yang memang meluluh lantahkan semua yang ada. Terbayang rumah-rumah tinggi dan bagus serta pepohonan yang tinggi, semua tinggal ujungnya. Juga poto langit yang masih tetap memerah karena api letusan. Mengerikan.

Musibah atau bencana bagi orang beriman, akan tetap dipandang baik. Ketentuan Alloh tidak pernah salah.  Dan setelahnya, perkampungan yang dulu hancur itu kini tampak lebih hijau dan subur.

Gunung, lautan, angin, air, adalah di antara para tentara Alloh yang kapan saja Alloh perintahkan untuk bergerak, maka tidak satu pun manusia yang mampu menghalanginya. Tidak ada. Sekuat dan sesombong apa pun manusia, jika tentara Alloh itu datang, maka tampaklah siapa sesungguhnya kita. Kita adalah hamba Alloh yang lemah, tidak punya daya dan kekuatan apa pun.

Hari ini, di mana zaman mendekati akhir, tentara-tentara Alloh bergerak menuruti perintah-Nya. Gunung meletus mengeluarkan api dan lahar panas. Tanah terbelah menelan apa yang ada di atasnya. Bumi bergoncang menghancurkan apa yang ada di atasnya. Air laut menerjang dan menyapu apa yang dilewatinya. Semua itu tidak lain ada sebagai peringatan bagi kita sebagai hamba-Nya. Apakah kita akan menjadikannya pelajaran, atau hanya menjadikannya ratapan lalu kembali kufur akan ni'mat-Nya. Orang beriman setelah musibah dan ujian, akan selalu berupaya merenungi tentang dosa-dosa yang dilakukan. Karena tidaklah musibah Alloh turunkan, kecuali karena ulah tangan manusia itu sendiri. Tapi bagi yang masih kufur, musibah dijadikannya alasan untuk terus melakukan dosa syirik, satu dosa yang tidak akan diampuni Alloh kecuali tobat nasuha sebelum ajal datang.

Saya berfikir, semoga dengan musibah apa pun yang Alloh timpakan, kita diberikan karunia untuk selalu memahami bahwa kita seharusnya selalu introspeksi diri, memohon ampunan dan selalu Istiqomah dalam beramal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar